Monday, 30 May 2011

Gaya Arsitektur Candi di Jawa Abad 8 — 15 M

I
Kajian terhadap bangunan candi telah banyak dilakukan oleh para ahli ilmu purbakala (arkeologi) baik para ahli Belanda ataupun ahli Indonesia sendiri. Istilah “candi” umumnya hanya dikenal di Pulau Jawa saja, walaupun demikian di beberapa daerah di luar Jawa yang pernah mendapat pengaruh kebudayaan Jawa istilah “candi” tetap dikenal sebagai nama bangunan kuno dari zaman Hindu-Buddha Nusantara.

Candi sebenarnya adalah salah satu saja dari bangunan keagaamaan yang pernah digunakan dahulu ketika agama Hindu-Buddha merebak dipeluk masyarakat Jawa Kuno. Berdasarkan bukti-buktinya dapat diketahui bahwa perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa berlangsung sekitar abad ke-8—15 M. Dalam pembabakan sejarah kebudayaan Jawa, masa itu dinamakan dengan zaman Klasik. Dinamakan dengan zaman Klasik karena adanya 3 parameter, yaitu:
  1. Zaman Hindu-Buddha merupakan periode dikembangkannya tonggak-tonggak kebudayaan penting yang dalam zaman sebelumnya tidak dikenal, seperti aksara, sistem kerajaan, arsitektur monumental, kesenian, penataan wilayah, dan lainnya lagi.
  2. Hasil-hasil pencapaian kebudayaan masa itu terus dikenal hingga sekarang dan tetap dapat dijadikan acuan bagi perkembangan masyarakat masa sekarang. Misalnya penggunaan bahasa Jawa Kuno yang mengacu kepada bahasa Sansekerta, kisah-kisah Mahābharata dan Ramayana, konsep pahlawan, konsep penguasa yang baik, perempuan ideal, masyarakat sejahtera, dan lain-lain.
Melalui penelisikan terhadap bukti-bukti artefaktualnya zaman Hindu-Buddha di Jawa pun terbagi dalam dua periode, yaitu (a) zaman Klasik Tua (abad ke-8—10 M), dan (b) zaman Klasik Muda (abad ke-11—15 M). Zaman Klasik Tua berkembang di wilayah Jawa bagian tengah, bersamaan dengan berkembangnya pusat kerajaan di wilayah tersebut. Kerajaan yang dikenal dalam masa itu adalah Mataram Kuno yang ibu kotanya berpindah-pindah semula di Mdang i Poh Pitu, kemudian pindah ke Mdang i Watu Galuh, dan Mdang i Mamratipura. Adapun zaman Klasik Muda. Kerajaan Mataram Kuno kerapkali dihubungkan dengan dinasti Śailendra yang beragama Buddha Mahayana, namun ada juga kalangan sarjana yang menyatakan bahwa kerajaan itu dikuasai oleh anak keturunan raja Sanjaya (“Sanjayavamsa”) yang menganut agama Hindu. Teori terbaru menyatakan bahwa Mataram Kuno dikuasai oleh anggota Śailendravamsa, di antara anggota-anggotanya ada yang beragama Buddha Mahayana dan ada pula yang memeluk Hindu-śaiva.
Dalam sekitar abad ke-10 M, Wawa raja Mataram Kuno memindahkan kota kedudukan raja ke Jawa bagian timur, alasan pemindahan tersebut masih menjadi perhatian para ahli dan belum ada kata putus yang dapat diterima bersama. Hipotesa telah banyak dikemukakan oleh para ahli, ada yang menyatakan bahwa pemindahan tersebut karena adanya wabah penyakit, rakyat yang melarikan diri ke Jawa bagian timur karena raja-raja masa itu memerintah dengan kejam, perpindahan itu dipicu karena adanya serangan dari Śriwijaya, disebabkan bencana alam letusan Gunung Merapi, serta suatu penjelasan terbaru menyatakan bahwa pemindahan ibu kota itu sebenarnya mencari Mahameru yang lebih ideal di Jawa Timur (Munandar 2004).
Maka selanjutnya berkembanglah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, dimulai dari masa pemerintahan Pu Sindok bersama dinasti Iśananya. Dalam masa pemerintahan Airlangga (1019—1042 M) kerajaan Mataram yang beribukota di Wwatan Mas (abad ke-11 M) itu terpaksa dibagi menjadi dua: Janggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kadiri) yang beribu kota di Daha. Kerajaan Kadiri yang kemudian lebih berperanan dalam sejarah sepanjang abad ke-12 M. Menyusul kerajaan Singhasari yang berkembang antara tahun 1222—1292 M yang dibangun oleh Ken Angrok. Akibat adanya serangan dari Jayakatwang penguasa Glang-glang terhadap raja Singhasari terakhir, yaitu Kŗtanagara (1268—1292), kerajaan itu runtuh, untuk kemudian lewat perjuangan panjang Krtarajaśa Jayawarddhana (Raden Wijaya) berdirilah Wilwatikta. Dalam masa pemerintahan Rajaśanagara (1350—1389 M) Majapahit menjelma menjadi penguasa Nusantara, Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir di Jawa, berkembang selama lebih kurang 200 tahun lamanya (1293—1521 M).
Kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang silih berganti di Jawa melampaui abad demi abad ada yang banyak meninggalkan “jejaknya”, namun ada pula yang sedikit saja mempunyai peninggalan arkeologis. Kerajaan Mataram Kuno, Singhasari dan Majapahit termasuk yang banyak mewariskan berbagai monumen keagamaan Hindu dan Buddha. Demikianlah monumen yang menjadi perhatian dalam kajian ini adalah bangunan candi yang merupakan salah satu monumen keagamaan penting. Bersama dengan candi terdapat monumen lain yang dipandang sakral adalah petirthaan (patirthān), goa pertapaan, dan altar persajian hanya saja jumlahnya terbatas. Oleh karena itu candi tetap menjadi bahan kajian menarik karena jumlahnya banyak dan memiliki arsitektur unikum, candi tidak akan pernah selesai dibahas dari berbagai aspek, salah satu aspeknya adalah gaya arsitekturnya.

II
Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut

R.Soekmono (1997) seorang ahli percandian Indonesia pernah mengadakan tinjauan ringkas terhadap bangunan candi di Jawa, dinyatakan bahwa bangunan candi di Jawa mempunyai dua langgam, yaitu Langgam Jawa Tengah dan Langgam Jawa Timur. Menurutnya Langgam Jawa Tengah antara lain mempunyai ciri penting sebagai berikut: (a) bentuk bangunan tambun, (b) atapnya berundak-undak, (c) gawang pintu dan relung berhiaskan Kala-Makara, (d) reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis, dan (e) letak candi di tengah halaman. Adapun ciri candi Langgam Jawa Timur yang penting adalah: (a)
candi brahu
bentuk bangunannya ramping, (b) atapnya merupakan perpaduan tingkatan, (c) Makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala Kala, (d) reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit, dan (e) letak candi bagian belakang halaman (Soekmono 1997: 86).
Demikian ciri-ciri penting yang dikemukakan oleh Soekmono selain ciri-ciri lainnya yang sangat relatif sifatnya karena berkenaan dengan arah hadap bangunan dan bahan yang digunakan. Sebagai suatu kajian awal pendapat Soekmono tersebut memang penting untuk dijadikan dasar pijakan selanjutnya manakala hendak menelaah tentang langgam arsitektur bangunan candi di Jawa. Sebenarnya setiap butir ciri yang telah dikemukakan oleh Soekmono dapat dijelaskan lebih lanjut sehingga menjadi lebih tajam pengertiannya. Misalnya bentuk bangunan tambun yang dimiliki oleh candi Langgam Jawa Tengah, kesan itu terjadi akibat adanya bagian lantai kaki candi tempat orang berjalan berkeliling memiliki ruang yang lebar, dengan istilah lain mempunyai pradaksinapatha yang lebar. Bentuk bangunan tambun juga terjadi akibat atap candi Langgam Jawa Tengah tidak tinggi, atapnya memang bertingkat-tingkat, dan hanya berjumlah 3 tingkat termasuk kemuncaknya. Dibandingkan dengan candi Langgam Jawa Timur jumlah tingkatan atapnya lebih dari tiga dan berangsur-angsur tiap tingkatan tersebut mengecil hingga puncaknya, begitupun pradaksinapathanya sempit hanya muat untuk satu orang saja, oleh karena itu kesan bangunannya berbentuk ramping.
Penjelasan lebih rinci juga dapat terjadi dalam hal kepala Kala, selain berpasangan dengan makara (hewan mitos gabungan antara gajah dan ikan, [gajamina]), umumnya Kala pada candi-candi Jawa tengah digambarkan tanpa rahang bawah (tidak berdagu), seringkali juga tidak mempunyai sepasang cakar, dan mengesankan wajah seekor singa simbol wajah kemenangan (kirttimukha). Sedangkan Kala di candi-candi dengan Langgam Jawa Timur digambarkan mempunyai rahang bawah (berdagu), jelas mempunyai sepasang cakar di kanan-kiri kepalanya dalam artian mengancam kejahatan yang akan mengganggu kesucian candi, pada beberapa candi zaman Singhasari dan Majapahit kepala Kala dilengkapi sepasang tanduk dan sepasang taring yang mencuat dari pipi kanan-kirinya. Kala tidak lagi dipasangkan dengan bingkai Makara, melainkan dengan ular atau Naga yang diletakkan di samping kanan-kiri Kala. Dalam penggambaran relief Kala disepadankan dengan sepasang kepala kijang (mŗga) yang menghadap ke arah luar. Pada akhirnya kesan yang didapatkan apabila memperhatikan Kala candi-candi Jawa Timur adalah sebagai kepala raksasa, bukannya wajah singa.
Dalam hal pemahatan relief yang menghias dinding candi, jika disimak dengan seksama terdapat perbedaan yang lebih terinci lagi. Memang secara prinsip di candi-candi Langgam Jawa Tengah pemahatan reliefnya tinggi dan bersifat naturalis, namun terdapat sejumlah ciri lainnya lagi yang bersifat spesifik. Dengan demikian jika diuraikan secara lengkap ciri relief di candi-candi Jawa Tengah adalah:
  1. Pemahatan relief tinggi
  2. Penggambaran bersifat naturalis
  3. Ketebalan pahatan ½ sampai ¾ dari media (balok batu)
  4. Terdapat bidang yang dibiarkan kosong pada panil
  5. Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan kepada pengamat (enface)
  6. Cerita acuan berasal dari kesusastraan India
  7. Tema kisah umumnya wiracarita (epos)
  8. Cerita dipahatkan lengkap dari adegan awal hingga akhir.
Mengenai ciri-ciri penggambaran relief pada candi-candi Langgam Jawa Timur adalah:
  1. Pemahatan relief rendah
  2. Penggambaran figur-figur simbolis, tokoh manusia seperti wayang kulit
  3. Dipahatkan hanya pada ¼ ketebalan media (batu/bata)
  4. Seluruh panil diisi penuh dengan berbagai hiasan, seperti terdapat “ketakutan pada bidang yang kosong”.
  5. Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan menghadap ke samping
  6. Cerita acuan dari kepustakaan Jawa Kuno, di samping beberapa saduran dari karya sastra India.
  7. Tema cerita umumnya romantis (perihal percintaan)
  8. Relief cerita bersifat fragmentaris, tidak lengkap hanya episode tertentu saja dari suatu cerita lengkap (Munandar 2003: 28—29).
Dalam hal letak candi induk di suatu kompleks percandian, Soekmono menyatakan bahwa bangunan candi induk pada Langgam Jawa Tengah memang berada di pusat halaman, sedangkan bangunan candi induk di kompleks percandian dengan Langgam Jawa Timur terletak di halaman paling belakang. Soekmono menjelaskan:
“Maka mengenai bangunan candi harus diketengahkan bahwa candi Roro Jonggrang menghendaki ditariknya seluruh perhatian ke pusat menuju langit (lokasi kayangan tempat bersemayam para dewa), sedangkan Candi Panataran menghendaki penggelaran pandangan secara mendatar (yang sebenarnya merupakan proyeksi datar saja dari susunan vertikal) dengan tujuan pengarahan perhatian ke lokasi nenek moyang di gunung-gunung” (Soekmono 1986: 237).
Sebenarnya secara tidak langsung Soekmono telah menjelaskan adanya fungsi yang berbeda antara bangunan candi-candi dalam masa Klasik Tua yang didirikan di Jawa bagian tengah dan candi-candi masa Klasik Muda di Jawa Timur. Bahwa bangunan candi-candi masa Klasik Tua didirikan untuk keperluan ritus pemujaan kepada dewata, sedangkan candi-candi di masa Klasik Muda terutama era Singhasari dan Majapahit bermaksud untuk didedikasikan bagi pemujaan nenek moyang telah diperdewa. Maka bangunan candi jelas merupakan monumen keagamaan yang bersifat sakral karena diperuntuk sebagai media untuk “berkomunikasi” dengan hal Adikodrati (superhuman beings).
Sebagai bangunan sakral candi tidaklah mengikuti kaidah keagamaan secara ketat, artinya tidak setiap bangunan candi harus didirikan secara seragam. Bangunan-bangunan tersebut mempunyai wujud arsitektur yang berbeda-beda, walaupun mempunyai latar belakang keagamaan yang sama. Wujud arsitektur yang berbeda itulah yang menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut, karena perbedaan tersebut sebenarnya menunjukkan adanya kekhasan. Oleh karena itu lazim disebut-sebut bahwa bangunan candi memiliki keistimewaan yang tidak didapatkan pada bangunan candi lainnya. Misalnya keistimewaan Candi Bima di Dieng adalah atapnya, atap dihias dengan bentuk-bentuk seperti buah keben (amalaka) yang tertekan dan oeleh karena itu wujudnya pipih. Candi lain mempunyai keistimewaan lain lagi dan seterusnya setiap candi mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri.

III
Berdasarkan bentuk arsitekturnya, sebenarnya candi-candi di wilayah Jawa bagian tengah dapat dibagi ke dalam dua macam gaya yang berlatarbelakangkan nafas keagamaannya, yaitu (1) candi-candi Hindu-śaiva dan (2) candi-candi Bauddha. Walaupun secara prinsip candi-candi itu mempunyai kesamaan, namun terdapat banyak perbedaan pula yang menarik untuk dibicarakan lebih lanjut.
Persamaan antara bangunan candi-candi Hindu-śaiva dan Bauddha di wilayah Jawa Tengah yang didirikan antara abad ke-8—10 M antara lain adalah:
  1. umumnya mempunyai pondasi yang berbentuk sumuran
  2. secara vertikal terdiri dari 3 bagian, yaitu, kaki, tubuh, dan atap bangunan
  3. mempunyai ruang utama di tengah bangunan
  4. dilengkapi dengan sejumlah relung yang kadang-kadang diperbesar menjadi ruang
  5. pipi tangga berbentuk ikal lemah
  6. terdapat gabungan bingkai padma, setengah lingkaran, dan rata
  7. ornamen yang selalu dikenal adalah hiasan Kala dan Makara.
Beberapa persamaan itu dapat ditemukan baik di candi-candi Hindu ataupun Buddha, seakan-akan telah menjadi ciri arsitektur bagi bangunan candi apapun di masa itu. Sebagai contoh pada butir b, baik pada candi Hindu ataupun Buddha pembagian vertikal tersebut selalu dapat dijumpai, yaitu (1) adanya bagian pondasi dan kaki candi dalam ajaran Hindu merupakan simbol dari alam Bhurloka, pada candi Buddha bagian ini dipandang sebagai pencerminan lapisan kehidupan Kamadhatu. (2) Bagian tubuh candi tempat bersemayamnya arca-arca dewa baik di bilik tengah (utama) atau relung-relung (parsvadewata) dalam ajaran Hindu merupakan simbol dari dunia Bhuvarloka, sedangkan dalam ajaran Buddha dapat dipandang sebagai pencerminan dari lapisan kehidupan Rupadhatu, dan (3) atap candi merupakan simbol Svarloka dalam Hinduisme, yaitu alam kehidupan para dewa. Adapun dalam ajaran Buddhisme atap adalah simbol Arupadhatu, suatu suasana tanpa wujud apapun, benar-benar hampa (śunyata).
Jadi berdasarkan pembagian arsitektur secara vertikal baik di candi Hindu ataupun Buddha sebenarnya melambangkan lapisan 3 dunia, yaitu dunia keburukan, dunia yang agak baik, dan dunia kebajikan sepenuhnya. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam di bangunan candi, terutama dalam hal penerapan ornamennya, sebab ornamen-ornamen itu ada yang khas menggambarkan suatu dunia tertentu. Misalnya penggambaran figur-figur makhluk kahyangan yang melayang di awan, binatang-binatang mitos, pohon Kalpataru, relief cerita yang mencerminkan lapisan alam tertentu, dan sebagainya.
Sebelum membicarakan cirri penting candi-candi Hindu, berikut didaftarkan dulu candi-candi Hindu penting di wilayah Jawa bagian tengah. Dengan adanya daftar tersebut dapat diketahui adanya sejumlah candi Hindu yang bangunannya masih berdiri, walaupun ada yang tidak lengkap lagi. Candi-candi itu adalah adalah:
1. Kelompok Candi Dieng + abad ke-8 Banjarnegara
2. Kelompok Candi Gedong Songo + abad ke-8 Ambarawa
3. Candi Gunung Wukir tahun 732 M Magelang
4. Candi Pringapus + abad ke-9 Temanggung
5. Kelompok Candi Sengi + abad ke-9 Magelang
6. Candi Selagriya + abad ke-9 Magelang
7. Candi Sambisari + abad ke-9 Sleman
8. Candi Kedulan + abad ke-9 Sleman
9. Candi Morangan + abad ke-9 Sleman
10. Candi Barong + abad ke-9 Sleman
11. Candi Ijo + abad ke-9 Sleman
12. Candi Merak + abad ke-10 Klaten
13. Candi Lawang + abad ke-10 Boyolali
14. Candi Sari + abad ke-10 Boyolali
15. Percandian Prambanan tahun 856 M Sleman
Sebenarnya terdapat juga candi-candi Hindu yang tinggal runtuhannya saja, karena itu tidak dapat diperkirakan kembali wujud lengkapnya semula. Misalnya Candi Gondosuli di Temanggung, Candi Ngempon di Ambarawa, dan Candi Retno di Magelang. Tentunya di masa mendatang diperkirakan masih akan ditemukan candi-candi Hindu lainnya di wilayah Jawa Tengah, terutama di sekitar gunung atau pegunungan, mengingat terdapat konsep kuat bahwa di daerah pegunungan itulah para dewa bersemayam, jadi para pembangun candi diperkirakan akan banyak mendirikan candi di daerah dataran tinggi dan gunung-gemunung.
Berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah candi Hindu di wilayah Jawa Tengah dapat diketahui adanya sejumlah ciri khas yang dimiliki oleh bangunan-bangunan candi Hindu, yaitu:
  1. Di bagian tengah pondasi terdapat sumuran (perigi) tempat untuk menyimpan pendaman
  2. Lantai pradaksinapatha tidak terlalu lebar di bagian tepinya tidak ada pagar langkan (vedika).
  3. Terdapat 5 relung di dinding luarnya, 1 relung di setiap sisi dinding dan 2 relung kecil di kanan-kiri pintu (berisikan arca Durga Mahisasuramardini, Ganesa, Rsi Agastya, Mahakala, dan Nandiśvara)
  4. Jika berupa kompleks bangunan, maka terdiri dari 1 candi induk berhadapan dengan 3 Candi Perwara. Candi perwara tengah berisikan arca Nandi.
  5. Di bagian tengah bilik utama terdapat Lingga-Yoni, Yoni menutup mulut perigi yang terdapat di lantai bilik dan menembus pondasi.
  6. Mercu-mercu atap berupa bentuk candi kecil, kemuncaknya berbentuk motif ratna.
Demikian beberapa ciri penting yang terdapat pada bangunan gaya arsitektur candi Hindu-śaiva yang terdapat di Jawa bagian tengah. Ciri-ciri tersebut sebagian besar dapat ditemukan pada hampir semua bangunan candi Hindu-śaiva, namun ada pula yang hanya didapatkan pada 2 bangunan saja, selain dua bangunan tersebut tidak dapat dijumpai ciri yang dimaksudkan. Misalnya di lingkungan percandian Dieng dan Gedong Songo, setiap candi tidak dilengkapi dengan 3 Candi Perwara di hadapannya, melainkan terdapat satu bangunan saja yang denahnya empat persegi panjang, kasus demikian etrjadi pada Candi Arjuno yang berhadapan dengan Candi Semar. Di kompleks Gedong Songo terdapat Candi Gedong Songo II yang berhadapan dengan struktur kaki candi berdenah empat persegi panjang, dahulu mungkin merupakan candi perwaranya. Candi Gedong Songo I, justru tidak terdapat relung di sisi luarnya, dan terlihat adanya sisa pagar langkan di bagian tepian pradaksinapathanya, jadi mirip dengan bentuk arsitektur candi Buddha. Hanya saja karena candi-candi lainnya di kelompok percandian Gedong Songo tersebut bernafaskan agama Hindu-śaiva, maka candi Gedong Songo I pun digolongkan sebagai candi Hindu-śaiva pula.
Dalam pada itu terdapat pula candi-candi Buddha penting di wilayah Jawa bagian tengah, candi-candi itu ada yang dipandang menarik dari sudut arsitekturnya selain stupa Borobudur yang tidak ada duanya lagi di dunia. Candi Borobudur sebenarnya merupakan gabungan antara bentuk punden berundak yang dihiasi dengan stupa-stupa, stupa induk berada di puncak pundek seakan-akan menjelma menjadi mahkota bagi punden berundak khas bangunan suci masa prasejarah Indonesia (Wirjosuparto 1964: 53—54). Candi-candi Buddha ada yang mempunyai denah empat persegi panjang dalam ukuran besar (Candi Sari, Plaosan Lor, dan Banyunibo), sedangkan candi Hindu hanya berukuran kecil saja (Candi Semar dan Gedong Songo IIIc). Terdapat pula candi-candi Buddha yang dilengkapi dengan banyak Perwara, misalnya Candi Lumbung, Sewu, Plaosan Lor, dan Kidal, sedangkan candi Hindu hanya Prambanan saja yang dilengkapi banyak Perwara. Gambaran umum percandian Buddha di Jawa bagian tengah antara lain:
1. Percandian Ngawen + abad ke-9 Magelang
2. Candi Kalasan + abad ke-8 Sleman
3. Candi Sari (candi Bendah) + abad ke-8 Sleman
4. Stupa Borobudur + abad ke-9 Magelang
5. Candi Pawon + abad ke-9 Magelang
6. Candi Mendut + abad ke-9 Magelang
7. Percandian Lumbung + abad ke-9 Sleman
8. Candi Bubrah sekitar tahun 782 M Sleman
9. Percandian Sewu (Manjusrigrha) tahun 792 M Sleman
10. Percandian Plaosan Lor + abad ke-10 Klaten
11. Percandian Plaosan Kidul + abad ke-10 Klaten
12. Candi Sajiwan + abad ke-9 Klaten
13. Percandian Banyunibo + abad ke-9 Sleman
14. Stupa Dawangsari + abad ke-10 Sleman
Setelah membicarakan beberapa candi Buddha penting di wilayah Jawa bagian tengah, kronologi relatif, dan lokasinya sekarang ini, selanjutnya diperhatikan beberapa cirri penting dari candi-candi Buddha. Dinamakan penting karena cirri-ciri itulah yang secara umum hadir pada candi-candi Buddha, yaitu:

Ciri-ciri penting candi Buddha
  1. Bangunan candi induk dikelilingi oleh candi perwara di sekitarnya
  2. Lantai pradaksinapatha relatif lebar dan di bagian tepinya mempunyai pagar langkan (vedika)
  3. Pada bagian tubuh candi terdapat lubang-lubang yang tembus seakan-akan berfungsi sebagai ventilasi, selain terdapat relung-relung di dinding luarnya
  4. Mempunyai komponen bangunan berbentuk stupa, terutama di bagian atap
  5. Dilengkapi dengan arca-arca yang bersifat bauddha
  6. Di bilik candinya, menempel di dinding belakang terdapat “pentas persajian” , untuk meletakkan arca.
  7. Tidak mempunyai perigi sebagaimana yang dijumpai pada candi Hindu
  8. Pada beberapa candi besar halaman percandian diperkeras dengan hamparan balok batu, hal itu dapat ditafsirkan bahwa di masa silam pernah terjadi ritual yang banyak menyita aktivitas di halaman tersebut.
Demikianlah apabila diperhatikan secara seksama terdapat perbedaan antara candi-candi Hindu-śaiva dan Buddha Mahayana di masa Klasik Tua di Jawa bagian tengah. Perbedaan itulah yang dapat disebut langgam atau gaya, jadi di Jawa bagian tengah antara abad ke-8—10 candi-candi dibangun dengan dua langgam, yaitu langgam candi Hindu atau langgam candi Buddha. Pendapat R.Soekmono dalam hal ini dapat dikembangkan lebih lanjut, bahwa langgam candi Jawa tengah itu ternyata dapat dibagi menjadi 2 lagi. Sebenarnya kedua langgam itu telah mengalami gejala perpaduan di kompleks Prambanan, sebab ciri-ciri candi Hindu dan Buddha dapat ditemukan secara bersama-sama di gugusan candi Prambanan. Sejalan dengan pendapat J.G.de Casparis akhirnya terjadi perkawinan antara anggota “keluarga Sanjaya” yang Hindu dan anggota Śailendravamsa yang beragama Buddha. Perkawinan dua keluarga tersebut kemudian diwujudkan dengan mendirikan bangunan suci yang bercorak dua agama, yaitu percandian Prambanan atau Śivagrha dalam tahun 856 M (Sumadio 1984).

IV
Setelah kerajaan berkembang di wilayah Jawa bagian timur, maka bermacam aktivitas keagamaan pun beralih ke wilayah tersebut. Bangunan suci pun kemudian dibangun oleh masyarakat masa itu di lokasi-lokasi yang dipandang sakral melanjutkan tradisi Klasik Tua, seperti di pertemuan dua aliran sungai, daerah dataran tinggi dan pegunungan, dan dekat sumber-sumber air (mata air). Hal yang menarik di daerah malang sampai sekarang masih terdapat bangunan candi dengan Langgam candi Hindu Klasik Tua –sebagaimana yang terdapat pada candi Hindu-saiva di Jawa Tengah, yaitu Candi badut. Candi ini dihubungkan dengan Prasasti Dinoyo yang bertarikh 760 M. Dalam prasasti itu diuraikan adanya Kerajaan Kanjuruhan, Raja yang mengeluarkan prasasti itu adalah Gajayana yang beragama Hindu-saiva. Sehubungan dengan sebab tertentu yang belum dapat dijerlaskan, Kanjuruhan runtuh mungkin masih dalam abad ke-8 juga, kemudian uraian sejarahnya tidak dapat diketahui lagi.
Tinggalan arsitektur tertua setelah Mataram ibu kota berlokasi di Jawa bagian timur antara abad ke-10—11 M sebenarnya cukup langka, dua di antaranya yang penting adalah petirthān kuno, yaitu Jalatunda (abad ke-10 M) yang terletak di lereng barat Gunung Penanggungan dan Belahan terletak di lereng timurnya (abad ke-11 M). Kedua petirthan tersebut sampai sekarang masih mengalirkan air walaupun sudah tidak deras lagi. Menilik gaya arsitektur, relief dan seni arcanya patirthǎn Jalatunda dan Belahan dapat digolongkan sebagai karya arsitektur tertua di Jawa Timur setelah periode Kanjuruhan. Satu runtuhan candi yang semula merupakan patirthǎn pula adalah candi Sanggariti yang berlokasi di daerah Batu, Malang. Hanya saja candi penting dari sekitar abad ke-10 tersebut sudah tidak terurus lagi, sebagian bangunannya (tubuh dan atapnya telah hilang).
Sisa bangunan candi yang diperkirakan didirikan oleh raja Pu Sindok (929—947 M) adalah runtuh candi Lor yang terbuat dari bata di wilayah Kabupaten Nganjuk sekarang. Sisa candi Gurah di wilayah Kediri pernah ditemukan dalam penggalian arkeologi tahun 1969, bangunannya hanya tinggal pondasinya saja, sedangkan arca-arcanya dalam keadaan cukup baik, yaitu arca Brahma, Surya, Candra, dan Nandi. Bangunan Candi Gurah diperkirakan berasal dari Kerajaan Kadiri (abad ke-12 M), candi itu masih berlanggam candi Hindu Klasik Tua karena di depan candi induknya terdapat 3 candi perwara masing-masing mempunyai pondasi yang terpisah. Ujung pipi tangganya dihias dengan makara, suatu yang lazim pada candi-candi Jawa tengah, sedangkan arca-arcanya mirip dengan gaya seni arca Singhasari, oleh karena itu Soekmono menyatakan bahwa arsitektur candi Gurah merupakan mata rantai penghubung antara gaya bangunan candi masa Klasik Tua di Jawa Tengah dan masa Klasik Muda di Jawa bagian timur (Soekmono 1969: 4—5, 16—17).
Bangunan candi di wilayah Jawa bagian timur yang relatif masih utuh kebanyakan berasal dari periode Singhasari (abad ke-13 M) dan Majapahit (abad ke-14–15 M). Candi-candi yang dihubungkan dengan periode Kerajaan Singhasari yang masih bertahan hingga kini adalah Candi Sawentar (Blitar), Kidal, Singhasari, Stupa Sumberawan (Malang), dan candi Jawi (Pasuruan).
Adapun candi-candi dari era Majapahit yang masih dapat diamati wujud bangunannya walaupun banyak yang tidak utuh lagi, adalah:
1. Candi Sumberjati (Simping) Abad ke-14 M Blitar
2. Candi Ngrimbi (Arimbi) s.d.a Jombang
3. Candi Panataran (Rabut Palah) s.d.a Blitar
4. Candi Surawana s.d.a Kediri
5. Candi Tegawangi s.d.a Kediri
6. Candi Kali Cilik s.d.a Blitar
7. Candi Bangkal s.d.a Mojokerto
8. Candi Ngetos s.d.a Nganjuk
9. Candi Kotes s.d.a Blitar
10. Candi Gunung Gangsir s.d.a Pasuruan
11. Candi Jabung s.d.a Probolinggo
12. Candi Kedaton Abad ke-15 M Probolinggo
13. Candi Brahu s.d.a Trowulan/Mojokerto
14. Candi Tikus s.d.a s.d.a
15. Gapura Bajang ratu s.d.a s.d.a
16. Gapura Wringin Lawang s.d.a s.d.a
17. Candi Pari Abad ke-14 M Sidoarjo
18. Candi Pamotan Abad ke-15 M Mojokerto
19. Candi Dermo s.d.a s.d.a
20. Candi Kesiman Tengah s.d.a s.d.a
21. Candi Sanggrahan Abad ke-14 M Tulungagung
22. Candi Mirigambar s.d.a s.d.a
23. Candi Bayalango s.d.a s.d.a
24. Punden berundak di Penanggungan Abad ke-15—16 M Mojokerto
Berdasarkan wujud arsitektur yang masih bertahan hingga kini, maka bangunan suci Hindu-Buddha di wilayah Jawa Timur yang berkembang antara abad ke-13—16 M dapat dibagi ke dalam 5 gaya, yaitu (1) Gaya Singhasari, (2) Gaya Candi Brahu, (3) Gaya Candi Jago, (4) “Candi Batur”, dan (5) Punden berundak. Untuk lebih jelasnya ciri setiap gaya tersebut adalah sebagai berikut:

1.Gaya Singhasari
Dinamakan demikian karena wujud arsitektur yang menjadi ciri gaya ini mulai muncul dalam zaman kerajaan Singhasari dan terus bertahan hingga zaman Majapahit. Ciri yang menonjol dari Gaya Singhasari adalah:
1. Bangunan candi utama terletak di tengah halaman, atau di daerah tengahnya yang sering tidak terlalu tepat.
2. Bangunan candi terbagi 3 yang terdiri dari bagian kaki (upapitha), tubuh (stambha), dan atap yang berbentuk menjulang tinggi dengan tingkatan yang berangsur-angsur mengecil hingga puncak. Seluruh bangunan candi terbuat dari bahan tahan lama, seperti batu, bata, atau campuran batu dan bata.
3. Ruang atau bilik utama terdapat di bagian tengah bangunan, terdapat juga relung di dinding luar tubuh candi tempat meletakkan arca dewata.
Contoh gaya Singhasari adalah: Candi Sawentar, Kidal, Jawi, Singhasari (memiliki keistimewaan), Angka Tahun Panataran, Kali Cilik, Ngetos, dan Bangkal.

2.Gaya Brahu
Brahu adalah nama candi bata yang terletak di situs Trowulan, bentuk bangunannya unik, karena arsitekturnya baru muncul dalam zaman Majapahit. Dalam masa sebelumnya baik di era Singhasari atau Mataram Kuno bentuk arsitektur demikian belum dikenal. Dapat dipandang sebagai corak arsitektur tersendiri karena selain Candi Brahu candi yang sejenis itu masih ada lagi dalam zaman yang sama. Ciri Gaya Brahu adalah:
1. Bagian kaki candi terdiri atas beberapa teras (tingkatan), teras atas lebih sempit dari teras bawahnya).
2. Tubuh candi tempat bilik utama didirikan di bagian belakang denahnya yang bentuk dasarnya empat persegi panjang.
3. Seluruh bangunan dibuat dari bahan yang tahan lama, umumnya bata.
Termasuk kelompok Gaya Brahu adalah Candi Brahu, Jabung, dan Gunung Gangsir. Dalam pada itu di wilayah Padang Lawas, Sumatra Utara terdapat sekelompok bangunan suci dengan Gaya Brahu pula, dinamakan dengan Biaro Bahal yang jumlahnya lebih dari 3 bangunan. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa biaro-biaro di Padang Lawas tersebut didirikan dalam masa perkembangan Majapahit pula.

3.Gaya Jago
Candi Jago terletak di Malang, arca-arcanya berlanggam seni Singhasari dengan adanya tokoh yang diapit oleh sepasang teratai yang keluar dari bonggolnya, namun gaya bangunannya tidak sama dengan dua macam gaya yang telah disebutkan terdahulu. Menilik bentuk bangunannya yang berbeda dengan dua gaya lainnya, maka Candi Jago bersama beberapa candi lainnya yang sejenis termasuk ke dalam gaya seni arsitektur tersendiri. Untuk memudahkannya gaya arsitektur itu dinamakan dengan Gaya Jago, dengan Candi Jago sebagai contoh terbaiknya. Ciri-ciri penting Gaya Jago adalah:
1. Kaki candi berteras 1, 2 atau 3 dengan denah dasar empat persegi panjang.
2. Bilik utama didirikan di bagian tengah teras teratas atau bergeser agak ke belakang teras teratas.
3. Atap tidak dijumpai lagi, diduga terbuat dari bahan yang cepat rusak (ijuk, bambu, kayu, dan lain-lain), bentuknya menjulang tinggi bertingkat-tingkat dalam bahasa Jawa Kuno dikenal dengan prasadha. Bentuk seperti ini masih dikenal di Bali dan digunakan untuk menaungi bangunan meru, pelinggih dan pesimpangan di kompleks pura.
Bangunan candi yang termasuk kelompok Gaya Jago adalah: Candi Jago, Candi Induk Panataran, Sanggrahan, dan Kesiman Tengah.


4. “Candi Batur”
Dinamakan demikian karena bentuknya hanya merupakan suatu bangunan 1 teras sehingga membentuk seperti siti inggil atau batur. Sekarang hanya tersisa batur itu saja dengan tangga di salah satu sisinya, denahnya bias berberntuk bujur sangkar dan dapat pula berbentuk empat persegi panjang. Di bagian permukaan batur biasanya terdapat objek sakral, antara lain berupa lingga-yoni, altar persajian, pedupaan berbentuk candi kecil atau juga arca perwujudan tokoh yang telah meninggal. Contoh bangunan candi seperti itu adalah Candi Kedaton di Probolinggo, Candi Kedaton di Trowulan, Candi Miri Gambar, Tegawangi, Surawana, Papoh (Kotes), dan Pasetran di lereng utara Gunung Penanggungan.

5. Punden berundak
Adalah bangunan teras bertingkat-tingkat meninggi yang menyandar di kemiringan lereng gunung. Ukuran teras semakin mengecil ke atas, jumlah teras umumnya 3 dan di bagian puncak teras teratas berdiri altar-altar persajian yang jumlahnya 3 altar (1 altar induk diapit dua altar pendamping di kanan-kirinya. Tangga naik ke teras teratas terdapat di bagian tengah punden berundak, terdapat kemungkinan dahulu di kanan kiri tangga tersebut berdiri deretan arca menuju ke puncak punden yang berisikan altar tanpa arca apapun. Contoh yang baik bentuk punden berundak masa Majapahit terdapat di lereng barat Gunung Penanggungan, penduduk menamakan punden-punden itu dengan candi juga, misalnya Candi Lurah (Kepurbakalaan No.1), Candi Wayang (Kep. No.VIII), Candi Sinta (Kep.No.17a), Candi Yuddha (Kep.No.LX), dan Candi Kendalisada (Kep.No.LXV). Selain di Gunung Penanggungan terdapat pula beberapa punden berundak di lereng timur Gunung Arjuno, hanya saja dinding teras-terasnya disusun dari batu-batu alami, tanpa dibentuk dahulu menjadi balok-balok batu.
Penggolongan bentuk arsitektur candi-candi di Jawa Timur tersebut berdasarkan pengamatan terhadap sisa bangunan yang masih ada sekarang, mungkin di masa silam lebih banyak lagi bentuk arsitektur yang lebih unik dan menarik, hanya saja tidak tersisa lagi wujudnya. Terdapat juga bangunan candi yang tidak dapat digolongkan ke dalam bentuk arsitektur manapun, misalnya Candi Pari yang bangunannya melebar dan tinggi, mirip dengan bangunan suci yang terdapat di Champa (Indo-China). Mungkin saja dahulu terdapat pengaruh gaya bangunan Champa yang masuk ke Majapahit, hal itu agaknya sejalan dengan berita tradisi yang mengatakan bahwa raja Majapahit pernah menikah dengan seorang putri Champa.Bangunan lain yang juga unik adalah Candi Sumur di dekat Candi Pari, dinamakan demikian karena ruang utamanya berupa lubang sumur yang berair. Candi Sumur mempunyai padanannya pada Candi Sanggariti di Batu, Malang, namun dari kronologi yang jauh berbeda.

V
Aktivitas keagamaan Hindu-Buddha di Jawa masa silam tentunya cukup bergairah, terbukti dengan ditemukannya banyak peninggalan bangunan suci dari kedua agama itu baik di wilayah Jawa bagian tengah ataupun timur. Para ahli arkeologi dan sejarah kuno telah sepakat untuk menyatakan bahwa munculnya berbagai karya arsitektur bangunan suci itu sebenarnya sejalan dengan keberadaan pusat kerajaan sezaman. Ketika pusat kerajaan berada di Jawa Tengah, candi-candi Hindu-Buddha banyak dibangun di wilayah tersebut, dan ketika pusat-pusat kerajaan muncul di Jawa Timur, pembangunan candi-candi pun banyak dilakukan di wilayah Jawa Timur.
Gaya arsitektur bangunan candi ketika pusat Kerajaan Mataram masih berlokasi di Jawa Tengah, lebih didasarkan pada latar belakang agamanya. Maka dari itu terdapat Langgam Candi Hindu-saiva dan Langgam Candi Buddha Mahayana. Lain halnya ketika pusat-pusat kerajaan telah berada di Jawa Timur, perbedaan gaya bangunan suci itu tidak didasarkan kepada perbedaan agama lagi, baik candi Hindu ataupun Buddha gaya arsitekturnya sama, hal yang membedakannya hanya terletak pada arca-arca yang dahulu disemayamkan di dalamnya. Mungkin kenyataan ini sejalan dengan konsep Siwa-Buddha bahwa sebenarnya dalam hakekat tertinggi sebenarnya tidak ada lagi perbedaan antara Siwa dan Buddha, oleh karena itu tidak perlu adanya perbedaan secara tegas terhadap wujud bangunan sucinya.
Satu masalah penting yang perlu kajian lebih lanjut adalah apa yang terjadi di wilayah Jawa bagian tengah ketika Kediri, Singhasari dan Majapahit berkembang di Jawa Timur?, apakah Jawa Tengah sepi dari aktivitas keagamaan?, apakah masih dihuni oleh penduduk?, mengapa tidak ada sumber sejarah dan arkeologi yang ditemukan di wilayah Jawa Tengah antara abad ke-11—14?. Demikianlah terdapat masalah yang menarik untuk diungkapkan di masa mendatang, bahwa tidak mungkin wilayah tua di Jawa bagian tengah bekas tempat kedudukan para Syailendra itu tiba-tiba sepi saja, ketika kerajaan-kerajaan berkembang di Jawa bagian timur. Penelisika untuk menjelaskan permasalahan itu masih terbuka, dan mengundang para ahli yang berminat untuk mengeksplorasinya lebih lanjut.

PUSTAKA

Munandar, Agus Aris, 2003, Aksamala: Bunga Rampai Karya Penelitian. Bogor: Akademia.
—————–, 2004, “Menggapai Titik Suci: Interpretasi Semiotika Perpindahan Pusat Kerajaan Mataram Kuno”, dalam dalam T.Christomy & Untung Yuwono (Penyunting), Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia. Halaman 161—180.
Soekmono, R., 1969, Gurah, The Link Between The Central and The East-Javanese Arts. Bulletin of the Archaeological Institute of the Republic of Indonesia No.6. Djakarta: Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.
——————, 1986, “Local Genius dan Perkembangan Bangunan Sakral di Indonesia”, dalam Ayatrohaedi (Penyunting), Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya. Halaman 228—246.
—————–, 1997, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.
Sumadio, Bambang (Penyunting jilid), 1984, Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Jakarta: Balai Pustaka.
Wirjosuparto, Sutjipto, 1964, Glimpses of Cultural History of Indonesia. Djakarta: Indira.

Arah Hadap Candi di Indonesia


Candi-candi di Indonesia diyakini bukanlah sekadar tumpukan batu yang tidak berarti. Peninggalan dari masa lampau itu merupakan bangunan suci agama Hindu dan Buddha. Menurut catatan-catatan kuno, sejak abad ke-5 hingga ke-15, banyak kerajaan bercorak Hindu dan Buddha muncul di Nusantara, antara lain Mataram, Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit. Kerajaan-kerajaan itu banyak mewariskan bangunan berupa candi.
Kesucian bangunan candi ditunjukkan oleh adanya tiga bagian pada candi itu. Pada candi Hindu, kaki candi melambangkan alam bawah, tempat manusia biasa; badan candi melambangkan alam antara, tempat manusia meninggalkan keduniawiannya; dan atap candi melambangkan alam atas, tempat para dewa. Menurut filosofi Buddha, bagian terbawah disebut kamadhatu (melambangkan dunia keinginan), bagian tengah rupadhatu (dunia berbentuk), dan bagian teratas arupadhatu (bagian tidak berbentuk).
Candi-candi di Indonesia pada dasarnya terdiri atas dua langgam, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Umumnya candi langgam Jawa Tengah menghadap ke Timur, sementara candi langgam Jawa Timur menghadap ke Barat.
Masyarakat kuno percaya bahwa candi harus terletak di tempat-tempat para dewa sering bercengkerama. Tempat-tempat itu umumnya dijumpai di puncak, lereng bukit, dan dataran tinggi. Tempat terbaik untuk pendirian candi konon adalah dekat air, terutama pertemuan dua sungai. Dulu, air merupakan perangkat penting untuk upacara keagamaan. Lokasi candi pun harus subur tanahnya sehingga akan menambah nilai plus pada bangunan tersebut.
Karena terpengaruh budaya India, maka pendirian candi tentu saja mengikuti aturan baku di sana. Sumber utamanya terdapat dalam kitab kuno Manasara (ukuran standar yang hakiki). Kitab itu dianggap sebagai inti Wastusastra (ilmu sastra) dan Silpasastra (ilmu tentang seni, sastra, dan mekanika bangunan).
Secara garis besar pembangunan candi terdiri atas tujuh tahap, yakni perencanaan oleh seorang sthapati (ahli pembuat candi), pencarian lokasi, pengujian tanah, penyiapan tanah, pembuatan wastupurusamandala (wastu = tempat tumbuhnya, purusa = inti alam semesta, mandala = denah suci), pembuatan denah candi di atas tanah, dan pengerjaan fisik.
Ciri khas candi-candi Hindu adalah terdapat arca-arca dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa atau perwujudan ketiganya. Bahkan arca-arca lainnya yang termasuk pantheon Hindu, seperti Ganesha, Nandi, dan Durga. Hiasan-hiasan candi yang dibuat pun selalu merepresentasikan ketiga dewa itu, antara lain tercermin pada lingga (tugu batu lambang kesuburan). Bagian bawah lingga berbentuk segiempat melambangkan dewa Brahma, bagian tengah berbentuk segidelapan melambangkan dewa Wisnu, dan bagian atas berbentuk bulat melambangkan dewa Siwa. Selain itu candi-candi Hindu memiliki delapan dewa penjaga arah mata angin (astadikpalaka).
Candi Buddha pun mempunyai ciri khas, berupa arca-arca Dhyanni Buddha, Dhyanni Boddhisatwa, dan Manusi Buddha. Masing-masing mewakili arah mata angin pokok (Utara, Selatan, Barat, dan Timur) ditambah satu di pusat.

Warna
Menurut dokumen-dokumen India, suatu bangunan kuno terkait secara simbolis dengan warna dan arah mata angin. Epigraf (ahli membaca prasasti kuno) Prancis L.Ch. Damais pernah melakukan penelitian sebagaimana tulisannya “Tentang Perlambangan Warna pada Mata Angin” (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1995, hal. 111-164).
Dari sejumlah kitab kuno India, Damais mencoba mencari hubungan antara warna-warna dasar dengan arah mata angin, dewa, planet, alat tubuh, dan sebagainya. Damais melihat dalam agama Hindu terdapat warna dan arah yang dihubungkan dengan keempat kasta, yakni Brahmana (warna putih, arah Utara), Ksatria (merah, Timur), Waisya (kuning, Selatan), dan Sudra (hitam, Barat).
Dalam agama Buddha pun terdapat rangkaian warna yang melekat secara simbolis pada Dhyanni-Buddha. Perpadanannya adalah Amoghasiddhi (hijau, Utara), Aksobhya (biru, Timur), Ratnasambhawa (kuning, Selatan), Amitabha (merah, Barat), dan Wairocana (putih, zenith).
 
Sebagai acuan, Damais menggunakan sistem klasifikasi Tiongkok yang populer dalam ilmu feng shui hingga sekarang. Warna-warna tersebut dikaitkan dengan lima raja. Setelah ditata menurut mata angin, hasilnya adalah Utara (warna hitam, unsur air), Timur (hijau, kayu), Selatan (merah, api), Barat (putih, logam), dan Pusat (kuning, tanah).
Ilmu feng shui sendiri lahir di Tiongkok sekitar tahun 3000 SM. Feng shui adalah pengetahuan tentang tata letak bangunan yang dipandang akan membawa keberuntungan bagi penghuninya.
Feng shui berhubungan dengan arah rumah atau bangunan berdasarkan angka kua seseorang. Angka kua diperoleh dari data kelahiran. Feng shui mengenal sembilan angka kua (dari 1 hingga 9) yang terbagi menjadi dua kelompok. Angka kua 1, 3, 4, dan 9 termasuk kelompok Timur. Angka kua 2, 5, 6, 7, dan 8 termasuk kelompok Barat.
Candi-candi di Indonesia umumnya menghadap ke Timur atau Barat, meskipun ada sedikit sudut penyimpangan. Filosofinya cukup sederhana. Timur adalah tempat matahari terbit dan Barat tempat matahari terbenam. Candi Gunung Wukir, misalnya, sebagaimana pengukuran arkeolog Eadhiey Laksito Hapsoro diketahui menghadap ke arah Timur 109 derajat. Batas toleransi dalam feng shui adalah 97,5 – 112,5 derajat dihitung dari Utara. Jadi arah hadap candi itu masih termasuk kelompok Timur.
Arah hadap candi dan kelompok dalam feng shui, yakni Timur dan Barat, kemungkinan besar mempunyai kesesuaian. Boleh jadi jika ada penelitian mendalam, akan diketahui siapa raja atau pejabat yang mendirikan candi itu dan waktu pendiriannya. Sebab selama ini yang diketahui adalah waktu peresmian (bukan waktu pendirian) sebuah candi sebagaimana disebutkan pada prasasti.

Matahari
Dalam mitologi India dikisahkan bahwa matahari yang terbit dari Timur merupakan sumber segala kekuatan. Sebagai penguasa arah Timur ditunjuk Indra, yang dalam pantheon (masyarakat dewa) Hindu “menjabat” Dewa Perang. Sedangkan penguasa arah Barat adalah Varuna, identik dengan Dewa Laut.
Mengingat falsafah utama dalam feng shui adalah “bersandar pada gunung, melihat lautan”, tentu adanya kelompok Timur dan Barat bukanlah tanpa perhitungan matang. Konon Dewa Indra bertempat tinggal di keindraan atau puncak gunung.
Aturan-aturan dalam feng shui versi Tiongkok diyakini mirip aturan-aturan Manasara versi India. Feng shui dan candi umumnya bersinggungan dengan arah mata angin dan bentuk.
Dalam astadikpalaka penjaga arah Utara adalah Kuvera atau Dewa Kekayaan dan penjaga arah Selatan adalah Yama yang diidentikkan dengan tempat kemalangan. Dalam feng shui arah Utara adalah lokasi elemen air yang melambangkan kemakmuran dan arah Selatan adalah lokasi elemen api yang biasanya diibaratkan kemalangan. Elemen adalah semacam “rumus” dalam perhitungan feng shui. Karena itu elemen api bukanlah api sesungguhnya, melainkan “pengaruh” tertentu, sebagaimana juga elemen air, tanah, kayu, dan logam.

Simbolisasi
Dari berbagai dokumen tertulis (prasasti dan naskah kuno) di Jawa dan Bali, Damais menyimpulkan bahwa warna dasar yang paling dikenal adalah putih, merah, kuning, dan biru tua. Warna dasar sebagaimana disebutkan Prasasti Sukamerta (1296 M) adalah putih, merah, kuning, dan hitam. Demikian juga dalam kitab kuno Dewa Ruci. Putih, merah, kuning, dan hitam adalah warna-warna di alam semesta. Warna kelima dianggap mewakili keseluruhan warna lainnya, dengan catatan biru tua mirip dengan hitam.
Menurut Damais, warna-warna dasar di Jawa identik dengan warna-warna kasta dalam agama Hindu. Kesimpulan lain adalah simbolisasi Jawa, khususnya perpadanan merah dengan api. Dalam hal ini Brahma dianggap Dewa Api, dihubungkan dengan kematian. Kematian sendiri disamakan dengan Selatan, suatu kiblat yang juga dibuktikan baik oleh letak candi di Prambanan (Jawa) maupun oleh letak altar di Pura Besakih (Bali).
Di Indonesia banyak sekali bangunan kuno yang dipengaruhi kebudayaan India. Untuk itu perlu ada studi yang mendalam mengingat banyak bangunan kuno belum diketahui tarikh pendiriannya. Di samping itu banyak bangunan kuno dipengaruhi kalender Jawa dengan pancawara-nya. Semoga masalah pertanggalan candi mendapat perhatian dari para arkeolog yang berkecimpung di bidang penelitian. Persoalannya adalah dari pertanggalan mutlak candi bisa diperoleh banyak informasi tentang berbagai hal yang tentu saja akan menguntungkan dunia arkeologi secara umum.






Skripsi UDAYANA

PROGRAM S-1
No Nama Judul Skripsi Tahun
1 I Nyoman Poeger Raja Jayasakti di Bali 1964
2 Ida Bagus Santosa Prasasti-prasasti Raja Anak Wungsu 1965
3 I Gusti Gde Ardana Pemutaran Mandara Giri dalam Hubungan Seni Bangunan di Indonesia 1965
4 Darmawan Maskud Rahman Tinjauan Akulturasi Unsur-unsur Kebudayaan Indonesia Islam di dalam Arsitektur Indonesia 1965
5 Harun Kadir Bukit Tamalak di Goa sebagai Peninggalan Megalith 1966
6 I Ketut Lama Kekunoan di Gunung Tampaksiring 1966
7 Ida Bagus Rata Pura Ditinjau dari Tradisi dan Filsafat Agama Hindu di Bali 1968
8 I Gusti Putu Darsana Pandangan tentang Pura-pura di Desa Tenganan dan Segi Megalithnya 1969
9 I Wayan Arka Keadaan Pura-pura di Bali 1969
10 Ida Ayu Putu Adri Pedagingan Pura di Bali 1969
11 I Putu Budiastra Zaman Pemerintahan Marakata 1971
12 I Gusti Ayu Surasmi Perkembangan Tantrisme di Indonesia 1971
13 Soenarto Menara Mesjid Kudus 1971
14 I Ketut Linus Upacara Yadnya Sradha Jaman Majapahit 1972
15 I Wayan Widia Pura Besakih 1974
16 AA Rai Wiryani Tinjauan Beberapa Segi dari Hasta Kosali 1975
17 SA Ketut Renik Bade, Usungan Mayat Umat Hindu di Bali 1975
18 I Nyoman Purusa Mahavira Latar Belakang Prasejarah Pura Batu Madeg Sunantaya Penebel Tabanan 1977
19 I Gde Semadi Astra Jaman Pemerintahan Maharaja Jayapangus di Bali 1977
20 Cok. Istri Oka Tradisi Megalitik di Gelgel 1977
21 I Wayan Ardika Studi Sima pada Masa Pemerintahan Maharaja Anak Wungsu di Bali 1979
22 Ni Luh Putu Ayu Kusumawati Pande Besi di Tiingan Bali 1979
23 Ni Luh Suiti Tinjauan Arkeologi mengenai Prasadha di Pura Sada Kapal 1979
24 I Wayan Suteja Suatu Deskripsi Kekunaan Pura Taman Sari di Klungkung 1980
25 I Wayan Wardha Prasasti Raja Sakalendu Kirana di Bali 1980
26 I Gusti Putu Ekawana Jaman Pemerintahan Raja Sri Bhatara Mahaguru Dharmottungga Warmadewa 1980
27 I Wayan Rateng Arimbawa Kerajaan Bali Sejak Penaklukan Gajah Mada Sampai Abad XIV 1981
28 Dewi Darmini Suatu Analisis Arkeologi Beberapa Arca Perwujudan di Pura Panataran Pejeng 1981
29 Ni Made Sridanti Peninggalan-peninggalan Budhis di Sekitar Pejeng Bedahulu: Suatu Pendekatan Arkeologis 1981
30 I Made Suastika Beliung Persegi Salah Satu Unsur Peninggalan Masa Bercocok Tanam di Bali 1982
31 Luh Kade Chita Yuliati Metoda Pembuatan Gerabah di Bali 1982
32 I Gusti Ngurah Suastika Analisis Iconografi Arca Bhatari Mandul di Pura Tegeh Koripan Kintamani 1982
33 Ida Ayu Mediani Fungsi Pratima dalam Masyarakat di Bali Sekarang 1982
34 AA Gde Aryana Arsitektur Tradisional Bali Kuno Desa Tenganan Pegeringsingan 1982
35 AA Gde Oka Astawa Tinjauan Arca Ganeca Berdiri di Desa Bedahulu dan Pejeng 1982
36 I Wayan Redig Miniatur Candi Pura Puseh Abianbase Gianyar 1983
37 I Made Taro Arca-arca Berdiri Megalitik di Peguyangan 1983
38 I Made Giame Beberapa Peninggalan Tradisi Megalitik di Sampalan Klungkung 1983
39 I Dewa Kompiang Gede Tradisi Megalitik di Sumba Timur: Study Pendahuluan 1983
40 I Nyoman Merta Meru di Pura Giri Jaganatha Desa Katewel 1984
41 I Wayan Patera Arca-arca Catur Kaya di Desa Pejeng Gianyar 1984
42 I Nyoman Kasta Arca-arca Durga di Beberapa Pura di Sekitar Pejeng dan Bedahulu 1984
43 I Dewa Ketut Budiana Arca Hariti di Beberapa Pura di Bali 1984
44 IB Weda Mahendra Kedudukan dan Peranan Tokoh Agama pada Abad IX-X di Bali 1984
45 I Ketut Setiawan Birokrasi pada Masa Pemerintahan Ugrasena di Bali (Suatu Kajian Epigrafi) 1984

(Sedang menunggu data selanjutnya)

Skripsi UGM

SKRIPSI SARJANA MUDA [disusun berdasarkan abjad]
No Nama Judul Skripsi Tahun
1 Abraham Nurcahyo Celengan Koleksi Museum Trowulan (Fungsi dan Manfaatnya di Bidang Sosial Ekonomi) 1986
2 Ambon Alie Muhammad Punden Berundak dan Pengaruhnya di Indonesia 1979
3 Amir Panzuri Pemandian Gua Siluman Hubungannya Dengan Pelepasan 1984
4 Anggit Noegroho Fungsi Tahta Batu Situs Megalitik Terjan 1985
5 Arief Kartika M Fungsi Gua Candi Abang di Berbah Sleman Yogyakarta 1983
6 Aris Sumarno Makam Pangeran Raden Rangga Prawirodirdjo II di Madiun (Tinjauan Mengenai Seni Bangun dan Seni Hiasnya) 1986
7 Baiq Widyawati Prima Dewi Boneka Perunggu Bangkinang (Suatu Tinjauan Mengenai Arti dan Fungsinya) 1986
8 Bambang Prasetyo Wahyuhono Pola Pemukiman Masa Bercocok Tanam di Indonesia 1981
9 Bambang Widyantoro, R. Candi Badut (Tinjauan Periodesasi dan Arsitekturnya) 1985
10 Budi Amuranto Arti Magis Religius Batu Bergores di Beberapa Tempat di Indonesia 1986
11 Budi Santosa Azis R. Teknologi Alat Batu Pacitan 1983
12 Budi Santosa Wibowo Gua Pemujaan Silumbu 1981
13 Diah Purwanti Seni Tari Pada Relief Cerita Jataka-Awadana Candi Borobudur 1985
14 Djeni Soemadi, M. Tjerita-Tjerita Pandji Dalam Hubungannya Dengan Sejarah Kediri dan Sekitarnya 1967
15 Djoko Dwiyanto Situasi Pemerintahan, Sosial-Ekonomi Menjelang Akhir Periode Jawa Tengah 1975
16 Doni Sugio B.S. Lukisan Binatang di Beberapa Tempat di Indonesia Sebagai Bagi Perburuan 1984
17 Dukut Santoso Perabot Rumah Tangga Pada Relief Karmavibhangga di Candi Borobudur 1985
18 Dwi Anna Sitoresmi Kesenian Wayang Masa Pemerintahan Balitung 1979
19 Dyah Paramita Arti dan Fungsi Peripih Hubungannya Dengan Konsep Kosmologis 1983
20 Edy Purwanto Gua Selomangleng II (Suatu Tinjauan Mengenai Fungsi dan Permasalahannya) 1983
21 Endang Widyastuti Motif Hias Mimbar Masjid Kajoran (Studi Tentang Arti Simbolis) 1987
22 Endang Widyoretno Masjid Agung Surakarta Tinjauan Tentang Arsitekturnya 1982
23 Endra Waluya Masjid Jenar Kidul di Purworejo: Studi Tentang Eksistensi Unsur-Unsur Kebudayaan Hindu Pada Masjid 1981
24 Eni Sri Budi Lestari Arca Batu Gajah Pasemah: Satu Data Seni Pahat Masa Perundagian 1986
25 Fadjar Sukrijanto Keadaan Sosial Ekonomi dan Politik Pada Jaman Airlangga 1976
26 Fariasih A.S Keadaan Sosial Ekonomi Pada Masa Kayuwangi 1976
27 Gunadi Fungsi Bekal Kubur Dalam Tradisi Megalitik di Indonesia 1978
28 Hadjuddin Abbas Belahan dan Permasalahannya 1978
29 Handajani Pudjiastuti Hiasan Pada Nekara Tipe Heger I di Indonesia (Suatu Tinjauan Mengenai Arti Simbolis Arah Penggambarannya) 1986
30 Hario Riswanto Makam dan Masjid Kajoran 1982
31 Hedy Kuncoro Budi Tradisi Mesolitik di Jawa 1987
32 Hermawati Kompleks Makam Sunan Amangkurat I: Tinjauan Atas Seni Bangunnya 1985
33 Hery Santosa, Hb. Latar Belakang Kenaikan Takhta Rakai Kayuwangi 1985
34 Ida Suryani Megalitik di Situs Bandingan Kabupaten Purbalinga 2009
35 Ignatius Suharno Senjata Pada Relief Karmavibhangga (Analisis Jenis, Bentuk, dan Fungsi) 1986
36 Ika Iriawati Variasi Bentuk Mahkota Pada Relief Ramayana di Candi Prambanan 1986
37 Imam Widojoko, R.M. Relief Arjunawiwaha di Candi Surawana (Sebuah Studi Tentang Teknik Pemahatan Wujud dan Penampilan Dalam Adegan) 1984
38 Indung Panca Putra Kekunaan Langgar Dalem di Kudus: Tinjauan Atas Fungsi dan Seni Hiasnya 1986
39 Ingan Djaja Barus Arca Megalitik Liwa di Lampung Utara (Suatu Tinjauan Mengenai Arti dan Fungsinya) 1984
40 Isnafi’ah Ekorini Masjid Selo di Yogyakarta: Tinjauan Arkeologis Atas Arsitekturnya 1984
41 Istiyarti Kekunoan di Langgar Hadiwarno 1985
42 Jeanny Dhewayanti Arti Simbolis Burung Enggang Bagi Masyarakat Nias 1984
43 Juhartatik Tinjauan Latar Belakang Pola Letak Kompleks Makam Antaka Pura 1986
44 Ketut Gde Wira Surapati Fungsi Penetapan Halaman Pura di Bali 1983
45 Krisdantoro Desi A.N. Kesenian Dalam Upacara Penetapan Sima Pada Masa Pemerintahan Raja Balitung 1984
46 Manaruddin Hadiyanto Fungsi Yoni Dengan Hiasan Kala Pada Ceratnya di Situs Gunungsari 1984
47 Marsis Sutopo Kalumpang Sebagai Situs Pemukiman Masa Neolitik 1986
48 Martono Pemukiman Sementara Pada Masa Mesolitik di Indonesia 1980
49 Mohammad Basyir Zb. Pola Pemukiman Kotagede Lama 1983
50 Muhamad Heydar Perkembangan Pola Hias Kedok Pada Moko (Suatu Tinjauan Mengenai Arti dan Fungsinya) 1984
51 Muhammad Chawari Masjid Suranatan Yogyakarta: Studi Tentang Fungsi Berdasarkan Nama Masjid dan Kelengkapan yang Ada 1986
52 Musadad Pengaruh Tata Letak Halaman Kraton Pakungwati Terhadap Kraton Kasepuhan dan Kanoman 1986
53 Nanang Saptomo Pertahanan Kraton Pleret (Tinjauan Berdasarkan Keadaan Geografisnya) 1987
54 Natalia Widari Pelukisan Relief Ramayana di Candi Lorojonggrang dan Candi Panataran 1985
55 Niken Sri Rini Kuncari Teknologi dan Fungsi Alat Masif di Pacitan 1986
56 Nugroho Edy Purwanto Arti Simbolis dan Fungsi Relief Tokoh Menunggang Kuda di Batu Penutup Sungkup Candi Jawi 1986
57 Nunik Sri Sumarlina Masjid Agung Demak Ditinjau dari Segi Arsitektur 1984
58 Nurhadi Sumber Cina Sebagai Bahan Penyusunan Sejarah Indonesia Kuna 1973
59 Nuryanto Umur Lukisan di Gua-Gua Pulau Muna Sulawesi Tenggara 1986
60 Pantjawati Jalur Perdagangan Pada Masa Bercocok Tanam dan Masa Perundagian di Jawa Barat (Tinjauan Berdasarkan Artefak) 1985
61 Priyatno Hadi S. Fungsi Batu Berlubang di Daerah Bada (Sulawesi Tengah) 1985
62 Ranu Sutedja Peranan Kerbau Dalam Kebudayaan Megalitik di Indonesia 1978
63 Rina Anggraini Unsur Ornamen Prasejarah Dalam Ornamen Candi di Jawa Tengah 1985
64 Rizal Dhani Situs Pabrik Gula Sewugalur (1889-1930) (Tinjauan terhadap Latar Belakang Pemilihan Lokasi dan Pengaruh Keberadaannya terhadap Pemukiman Kolonial di Sekitarnya) 2010
65 Rusmeijani Setyorini Adat Mutilasi Pada Beberapa Situs Masa Perundagian (Tinjauan Atas Rangka-Rangka yang Tidak Lengkap) 1986
66 Rusmulia Tjiptadi Hidayat Pola Pemukiman Pendukung Kebudayaan Serpih-Bilah Sangiran: Suatu Tinjauan Arkeologis 1986
67 Samidi Variasi Bentuk Saluran Air Pada Candi Borobudur (Studi Tentang Arti Simbolisnya) 1982
68 Samrotul Ilmi Albiladijah Kraton Boko Sebagai Benteng Pertahanan Wamca Cailendra di Jawa Tengah 1971
69 Selarti Venetsia Saraswati Arca Wisnu Cibuaya II 1978
70 Siswoto Arti dan Fungsi Parit Keliling Candi Jawi Serta Alasan Pembuatannya 1986
71 Siti Rohyani Variasi Bentuk Atap Candi di Jawa Tengah 1985
72 Slamet Pinardi Sp. Masalah Ibu Radja Jayanegara 1970
73 Soebagyo Arti Simbolis Hiasan Pada Mimbar Masjid Tegalsari di Ponorogo 1985
74 Soebandono Seni Patung Asmat: Suatu Tradisi Pemujaan Arwah Leluhur 1986
75 Soebroto, Ph. Prasasti Gondosuli Sebagai Pernyataan Timbulnya Kembali Kekuasaan Dinasti Sanjaya di Jawa Tengah 1966
76 Soedarsilowati Soegijo, C. Peranan Keradjaan Madjapahit Dalam Dunia Perdagangan Pada Masa Sejarah Indonesia Lama: Sebuah Tindjauan dari Sudut Politik Sosial dan Ekonomi 2008
77 Soekartiningsih Arti Simbolis Pola Hiasan yang Terdapat pada Candi Kalasan 1983
78 Soelistyowati Relief Ceritera Binatang Pada Kaki Candi Sajiwan 1980
79 Soerasa Langkah-Langkah yang Ditempuh R. Wijaya Pada Saat Mendirikan Majapahit 1974
80 Sri Mastuti H.A Masalah Nama Cho-Po Seperti yang Diberitakan Dalam Berita Cina 1971
81 Sri Muryantini Romawati Tinjauan Arsitektur Terhadap Masjid Saka Tunggal di Pekuncen 1984
82 Sri Wahyu S. Legitimasi Kenaikan Tahta Raja-Raja Majapahit 1986
83 Sudiyarto, Cl. Situasi Politik di Bali Akibat Adanya Pengaruh-Pengaruh Jawa 1972
84 Sueb Nur Hamid Arti Simbolis Hiasan Binatang Melata Pada Sarkofagus di Bali 1985
85 Sugeng Rijadi Sebab Musabab Pralaya 1971
86 Sugeng Widodo Suatu Tinjauan Kembali Distribusi Beliung Persegi di Indonesia 1986
87 Sugito Arti Simbolis Relief Garuda Yoni Bowongan 1984
88 Sunarto Upacara Pemujaan Stupa: Studi Melalui Ungkapan Relief Pada Candi Borobudur 1986
89 Supijatun Usaha-Usaha Erlangga Dalam Rangka Menegakkan Kembali Keprabhuan Jawa-Timur 1975
90 Supraptiningsih Situasi Kerajaan Criwijaya Abad VII Ad-XI AD 1976
91 Supriyatna, J. Transportasi Darat Pada Relief Candi Borobudur (Studi Tentang Sarana dan Prasarana Transportasi Darat di Jawa Tengah Pada Abad IX M) 1978
92 Susetyo Edy Yuwono, J. Gerabah Suatu Bukti Kemajuan Teknologi Masa Bercocok Tanam di Indonesia 1985
93 Sutopo Faktor-Faktor Pendukung Berlangsungnya Pemerintahan R. Wijaya 1985
94 Suwanto Relief Cerita Binatang di Candi Mendut Sebagai Media Pendidikan Moral (Tinjauan Arti dan Fungsi Relief) 1986
95 Syaffruddin Angkat Beberapa Maksurah di Jawa: Tinjauan Atas Bentuk dan Seni Hiasnya 1985
96 Tetrias Pujianta Benteng Kraton Yogyakarta (Studi Pendahuluan Tentang Aspek Fungsi) 1985
97 Theodora Satiti Utami Arca Parwati dari Candi Rimbi Sebagai Perwujudan Tribhuwanatunggadewi 1986
98 Titiek Purbaningsih Ken Arok Seorang Tokoh Sejarah 1975
99 Titin Fatimah Mesjid dan Kraton Sumenep Sebagai Pusat Aktivitas Sosial dan Budaya Ditinjau dari Tata Letaknya 1984
100 Tri Hartini Masjid Gala di Bayat (Suatu Tinjauan Tata Letak dan Arsitektur) 1986
101 Tri Hartono Fungsi dan Arti Simbolis Pesanggarahan Wonocatur 1984
102 Tri Hatmadji Peranan Beliung Persegi Pada Masa Bercocok Tanam di Indonesia 1979
103 Tri Marheini S. Budisantosa Tinjauan Kesejarahan Isteri-Isteri Raden Wijaya Berdasarkan Pendekatan Konsepsional 1986
104 Triparmanta Endra W. Peranan Keris di Dalam Masyarakat Jawa Kuno 1984
105 Umar Sahid Unsur-Unsur Pra Islam Pada Mesjid dan Menara Kudus 1980
106 Wahyu Indarasana Durga Mahisasuramardini (Studi Tentang Obyek yang Dipegang Pada Arca-Arca Periode Kesenian Jawa Tengah) 1980
107 Wahyu Ratnaningsih Arca Kura-Kura di Depan Candi Sukuh (Studi Tentang Pengertiannya) 1980
108 Wanda M. Hiariej Peranan Menhir Pada Masa Megalitik dan Kelangsungannya Pada Kehidupan Masyarakat Sederhana di Indonesia 1981
109 Wardaya Kebudayaan Batu Situs Cabenge (Soppeng-Sulawesi Selatan) 1986
110 Wisnu Wardhana Padasan di Makam Sunan Bayat (Tinjauan Mengenai Seni Hiasnya) 1985
111 Yudono Yanuar Akhmadi Gapura Jedong: Studi Tentang Fungsi dan Kedudukannya di Antara Kekuanaan di Desa Wotanmas Jedong 1986
112 Yun Prasetiyawati Fungsi Gua Selamangleng Kediri 1986
113 Yusuf Senja Kurniawan Keberadaan Masjid Pathok Negoro Plosokuning Di Tengah Pemukiman Desa Plosokuning 2010
114 Zaimul Azzah Kekunoan Langgar Bubrah di Kudus (Suatu Tinjauan Terhadap Bentuk dan Seni Hiasnya) 1984

Menurut pihak arkeologi UGM, skripsi sarjana muda kurang layak dijadikan referensi. Daftar ini buat sekadar tahu saja.


PROGRAM S-1

No Nama Judul Skripsi Tahun
1 Umiyati Rochmat Proses Islamisasi di Ponorogo dan Peninggalan Kekunoannya 1969
2 Riboet Darmosoetopo Prasasti Salimar IV 1971
3 Subroto, Ph. Adegan Perang Pada Relief Ramayana Candi Larajonggrang Prambanan (Studi Tentang Angkatan Perang di Jawa Tengah Pada Abad IX M) 1975
4 Tawalinuddin Haris Proses Islamisasi dan Kekunaan Islam di Selaparang-Lombok 1976
5 Harry Truman Simanjuntak Penelitian Arkeologi di Gunung Wingko 1979
6 Imam Sunaryo Kekunoan Warung Boto 1979
7 Djoko Dwiyanto Beberapa Masalah Transportasi di Jawa Tengah Pada Masa Pemerintahan Balitung (Tahun 899-910 M) 1981
8 Kusen Arca-Arca Terakota Majapahit 1981
9 Nurhadi Gerabah dari Situs Kalumpang, Sulawesi Selatan: Sebuah Analisis Pendahuluan 1981
10 Susanto, R.M Fungsi dan Peranan Candi Sambisari Dalam Masyarakat Jamannya 1981
11 Wanda M. Hiariej Tradisi Pembuatan Gerabah di Daerah Maluku 1981
12 Soeroso Fungsi Petirtaan Cabean Kunti Bagi Masyarakat Jawa Kuna 1982
13 Bagyo Prasetyo Arti dan Fungsi Pola Hias Pada Peninggalan Megalitik di Kecamatan Tlogosari dan Tegalampel Bondowoso 1983
14 Endjat Djaenudrajat Kereta Singa Barong dan Permasalahannya 1983
15 Gunadi Tradisi Megalitik di Daerah Cilongok (Suatu Studi Analogi Etnografis) 1983
16 Koestoro, Lucas P. Peninggalan Purbakala Islam di Aermata, Madura 1983
17 Maria Margaretha Rini S. Nawasanga di Candi Merak 1983
18 Rampai, K.D. Bangunan Makam Orang Ngaju di Kalimantan Tengah 1983
19 Respati Hardjajanta Fungsi Watu Kandang Situs Megalitik Matesih 1983
20 Retno Sulistianingsih S. Arti Simbolis Bentuk Relief Wayang di Candi Jago (Dalam Hubungannya Dengan Pemujaan Leluhur) 1983
21 Rita M. Setianingsih Prasasti Wurare (Sebuah Tinjauan Kembali Mengenai Isi dan Masalahnya) 1983
22 Surya Helmi Gerabah Candi Sambisari: Suatu Analisis dan Perkiraan Fungsinya 1983
23 Agus Waluyo Peninggalan Tradisi Megalitik di Daerah Menggung, Tawangmangu 1984
24 Ambon Ali Muhammad Punden Berundak di Lebak Cibedug: Suatu Tradisi Pemujaan Arwah Leluhur 1984
25 Haryadi Masa Pendirian dan Fungsi Candi Selogriyo 1984
26 Herni Pramastuti Ikonometri Arca Utama Percandian Loro Jonggrang 1984
27 Lambang Babar Purnomo Kasine, Situs Kubur dan Situs Pemujaan Masa Perundagian 1984
28 Lisa Ekawati Telaah Arca Budha “Yang Belum Selesai” dari Candi Borobudur 1984
29 Martono Tradisi Pandai Besi di Desa Gilangharjo: Suatu Tinjauan Etnoarkeologi 1984
30 Prapto Saptono Pengecoran Logam Kuningan di Juwana, Salah Satu Tinjauan Ethnoarkeologi 1984
31 Soelistyowati Arti dan Fungsi Kamandalu Dalam Agama Hindu di Jawa 1984
32 Sri Lestari Jenis Pertanian dan Sistem Irigasi Pada Jaman Kuna Abad XI-XV di Jawa 1984
33 Suharyana Tradisi Pembuatan Perahu di Daerah Bantul, Yogyakarta 1984
34 Supraptiningsih Prasasti Rumwiga 826 dan 827 Saka: Tinjauan Tentang Pungutan Pajak 1984
35 Tri Hatmadji Tradisi Pandai Logam Tembaga di Kotagede Suatu Studi Ethnoarkeologi 1984
36 Bambang P. Wahyuhono Proses Bercocok Tanam di Dukuh Melikan, Suatu Tradisi Teknologi Masa Bercocok Tanam 1985
37 Bambang Sulistyanto Relief Bubuksah-Gagangaking Pada Candi-Candi Jawa Timur (Studi Tentang Agama Siwa dan Budha Dalam Perkembangannya yang Terakhir di Jawa Timur) 1985
38 Bugie M.H. Kusumohartono Pendekatan Lingkungan Dalam Mengaji Penempatan Kota Majapahit (Abad XIV M) Ditrowulan 1985
39 Daud Aris Tanudirjo Budaya Sampung Sebagai Budaya Transisi Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut ke Masa Bercocok Tanam 1985
40 Edi Triharyantoro Pemujaan Kuwera Pada Masyarakat Jawa Periode Klasik Jawa Tengah (Abad VIII-X) 1985
41 Eko Punto Hendro G. Unsur-Unsur Hindu Pada Kompleks Bangunan Kraton Yogyakarta 1985
42 Jenny Herawati Achwan, K.J. Alat Tulang, Tanduk dan Kulit Kerang (Analogi Fungsi, Teknik, Bahan) 1985
43 Widya Nayati Telaah Arkeologi Pada Kota Banten Lama Berdasarkan Interpretasi Foto Udara 1985
44 Ari Setyastuti Arca Camundi Dalam Kelompok Matrka: Fungsi dan Peranannya Pada Masa Pemerintahan Kertanegara 1986
45 Aris Harliadi, Heronimus Miniatur Candi Ratu Boko (Studi Tentang Arsitektur dan Fungsi) 1985
46 Bambang Sidik P. Pemujaan Terhadap Bhima dan Bhairawa Pada Akhir Periode Indonesia Kuno 1986
47 Hanan Pamungkas, Y. Arca Nandi Pada Periode Klasik Jawa Tengah (Studi Tentang Fungsi dan Persebarannya) 1986
48 Hudan Djuzan Dachri Pancawura, Sepucuk Meriam Abad XVII: Studi Tentang Tipologi dan Kaitannya Dengan Sistem Pertahanan 1986
49 Indah Sri Pinasti, Y. Arti Simbolis Hiasan Kalamakara dan Kalamerga Pada Candi-Candi di Jawa 1986
50 Niken Wirasanti Citra Wanita Dalam Masyarakat Jawa Kuna: Studi Kasus Tentang Kedudukan dan Peranan Wanita Periode Jawa Timur 1986
51 Prasadjati Rasdan, W. Variasi dan Arti Simbolis Wadah Sulur Gelung Pada Candi-Candi Periode Jawa Tengah 1986
52 Agung Harjuno Pergeseran Tahta, Konflik dan Akibat Kulturalnya Pada Masa Mataram Kuno Berdasarkan Sumber Prasasti 1987
53 Baskoro Daru T. Arsitektur Candi Sukuh :Tinjauan Terhadap Pola Ayunan Dalam Perkembangan Arsitektur Bangunan-Bangunan Suci Indonesia Klasik 1987
54 Dewi Dwi Rahayu Perdagangan Pada Masa Kejayaan Kerajaan Majapahit 1987
55 Edy Purwanto Tempat Pendharmaan Rajapatni: Tinjauan Tentang Identifikasi dan Latar Belakang Pendiriannya Berdasarkan Nagarakrtagama 1987
56 Endang Prasanti Latar Belakang Penggambaran Teriantropik Pada Arca dan Relief di Jawa 1987
57 Hariana Suryaningsih Peranan dan Fungsi Tokoh Panakawan Pada Candi-Candi Periode Jawa Timur 1987
58 Haris Susanto Peranan Perahu Pada Masa Klasik di Jawa 1987
59 Muhammad Basyir Zb. Kota Gede Kuna: Studi Pola Tata Kota dan Kehidupan Masyarakatnya 1987
60 Murini Respati Hubungan Antara Atribut Phisik dan Komposisi Unsur Pecahan Mangkuk Porselin Ming Biru Putih Abad XVI dan XVII Masehi dari Situs Biting: Studi Tentang Komposisi 1987
61 Riharyani Latar Belakang Keagamaan Candi Surawana: Ditinjau dari Relief-Reliefnya 1987
62 Soekartiningsih Pendiri dan Fungsi Petirtaan Jalatunda 1987
63 Tjahjono Prasodjo Prasasti Peradilan: Analisis Struktural dan Tinjauan Pelaksanaan Hukum Jawa Kuna 1987
64 Tri Lestari Hartati Peninggalan Megalitik di Kelurahan Mudalrejo dan Sekitarnya (Studi Tentang Latar Belakang Pendiriannya) 1987
65 Trisilo Budhiantoro Pembuatan Gong Perunggu di Daerah Papringan Yogyakarta (Sebuah Studi Etnoarkeologi) 1987
66 Wahyu Astuti Pakaian Bangsawan Pada Masyarakat Jawa Kuna Abad XII-XV Masehi: Tinjauan Berdasarkan Beberapa Relief Candi di Jawa Timur 1987
67 Winston S.D. Mambo Pandangan Masyarakat Jawa Kuno Terhadap Dewa Wisnu: Suatu Tinjauan Berdasarkan Data Prasasti dan Hasil Sastra 1987
68 Adri Ridwan Manoppo Beberapa Faktor Penyebab Pergeseran Pemukiman Giri dan Akibatnya 1988
69 Andi Riana Kompleks Makam Sidomukti di Kudus: Tinjauan Tentang Tata Letak dan Arsitektur Makam Para Bupati 1988
70 Anggit Noegroho Cara-Cara Perolehan Makanan Pendukung Situs Gua Lawa: Suatu Tinjauan Berdasarkan Temuan Sisa Fauna 1988
71 Goetomo Arca Menhir Gunung Kidul dan Arca Dvarapala Candi Sukuh (Studi Mengenai Gaya Arca) 1988
72 I Ketut Gde Wira Surapati Unsur Kebudayaan Cina Pada Beberapa Pura Kuna di Kintamani, Bali 1988
73 I Made Kusumajaya Periodisasi dan Pentahapan Pembangunan Candi Sewu Berdasarkan Data Teknis dan Arkeologis 1988
74 Isnafi’ah Ekorini Seni Ukir Pada Kekunoaan Islam di Mantingan dan Pengaruhnya Terhadap Seni Ukir Tradisional Jepara 1988
75 Pantjawati Alat-Alat Obsidian: Media Adaptasi Manusia Terhadap Lingkungan di Sekitar Danau Bandung 1988
76 Sartiono Kompleks Makam Panembahan Ronggo Sukowati: Suatu Tinjauan Tata Letak Seni Bangun dan Seni Hias 1988
77 Tetrias Pujianto Sengkalan Pada Bangunan di Kompleks Kraton Yogyakarta dan Sekitarnya: Sebuah Tinjauan Aspek Fungsi dan Maknanya 1988
78 Zaimul Azzah Masjid Menara dan Langgar-Langgar Kuna di Kudus dan Sekitarnya. Tinjauan Aspek Fungsional dan Lokasi 1988
79 Ariobimo Nusantara, A. Kronologi Lukisan Dinding Gua di Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan: Tinjauan Berdasarkan Analisis Kontekstual 1989
80 Budi Santoso Wibowo Latar Belakang Keagamaan Candi Jabung : Studi Berdasarkan Tinjauan Arsitektur dan Ragam Hias 1989
81 Diah Purwanti Penanggalan Pada Prasasti-Prasasti Masa Sindok: Tinjauan Berdasarkan Penggunaannya 1989
82 Djoko Nugroho Witjaksono Keberadaan Cerita Ruwatan Pada Candi-Candi Periode Jawa Timur di Jawa: Kajian Berdasarkan Analogi Etnografi 1989
83 Emanuel Wahyu Saptomo Situs Gua Sodong dan Marjan Sebagai Cerminan Teknokompleks Hoabinhian di Jawa 1989
84 Endang Kristinah Gunongan di Madura (Tinjauan Atas Fungsi dan Ragam Hiasnya) 1989
85 Fadjar Ibnu Thufail Pola Pemanfaatan Binatang Sebagai Sumber Bahan Makanan Pada Masyarakat Majapahit di Trowulan 1989
86 Goenawan Wibisana Pandangan Masyarakat Jawa Kuna Terhadap Dewi Parwati Pada Periode Jawa Timur 1989
87 Hery Santosa, Hb. Prasasti-Prasasti Bertarikh Sanjaya: Tinjauan Isi dan Latar Belakangnya 1989
88 Indah Asikin Nurani Pola Sebaran Situs-Situs Gua Budaya Toala 1989
89 Mahirta Mata Panah Pacitan (Tinjauan Segi Teknik dan Tipe) 1989
90 Marsis Sutopo Kerusakan, Kegagalan, dan Model Penanganan Dalam Proses Produksi Gerabah Tradisional 1989
91 Muhamad Heydar Calon Beliung Situs Teleng di Punung, Pacitan: Analisis Teknologi Berdasar Data Temuan Permukaan 1989
92 Muhammad Hidayat Motivasi Penggunaan Gerabah Tingkat Awal: Suatu Studi Kasus di Ulu Leang I 1989
93 Oki Laksito Tiang Hiasan Candi-Candi Periode Jawa Tengah: Analisis Ukuran dan Bentuk 1989
94 Priyatno Hadi S. Periodisasi Situs Kalumpang, Sulawesi Selatan: Kajian Analisis Artefaktual dan Stratigrafis 1989
95 Rina Anggraini Penempatan Prasasti-Prasasti Pendek di Candi-Candi Perwara Percandian Plaosan Lor: Kaitannya Dengan Tahapan Pembangunannya 1989
96 Sambung Widodo Pura Pakualaman: Tinjauan Fungsi dan Arti Filosofisnya 1989
97 Sri Endah Sulistyawati Pola Hubungan Situs Kalumpang dan Minanga Sipakka Dengan Daerah Luar 1989
98 Sri Muryantini Romawati Kompleks Makam Bupati Puspanegoro di Gresik: Tinjauan Tentang Kronologi Pembangunan dan Tata Letak Kompleks Makam 1989
99 Sri Wahyu S. Tokoh Gana, Variasi dan Penempatannya Pada Candi-Candi Periode Klasik Jawa Tengah 1989
100 Susetyo Edy Yuwono Alat Pemukul Kulit Kayu Koleksi Museum Nasional: Tinjauan Aspek Bentuk dan Fungsi 1989
101 Tular Sudarmadi Arca-Arca Tradisi Megalitik Koleksi Ardiyanto: Studi Tipologi dan Teknologi 1989
102 Abraham Nurcahyo Celengan Koleksi Museum Trowulan: Studi Teknik dan Fungsi 1990
103 Aris Sumarno Benteng Pendem Belanda Tahun 1839 di Kabupaten Ngawi: Tinjauan Terhadap Arsitektur dan Pemilihan Lokasi 1990
104 Baiq Widiawati P.D. Tipe Situs Gunung Piring (Analisis Berdasarkan Jenis Temuan) 1990
105 Gentur Wisnubaroto Fungsi dan Peranan Zodiakbeker Dalam Masyarakat Tengger (Studi Etnoarkeologi) 1990
106 Handayani Pujiutami Artefak Besi Sebagai Sarana Adaptasi Manusia Terhadap Lingkungannya (Studi Kasus di Kabupaten Gunung Kidul) 1990
107 Ikhlas Budi Prayogo Arsitektur Gereja Kiai Sadrach di Purworejo (Latar Belakang: Teologis, Politis, dan Kultural) 1990
108 Nanang Saptono Unsur Ajaran Sufi Pada Masjid Demak: Tinjauan Terhadap Seni Hias dan Seni Bangun 1990
109 Purwono Sutopo Benda-Benda Tradisi Megalitik di Kecamatan Sumbang, Banyumas (Tinjauan dari Segi Tata Letak, Bentuk, dan Asosiasi) 1990
110 Satiti Utami, Theodore Variasi Bentuk dan Arti Simbolis Vajra Koleksi Museum Nasional, Sanabudaya, dan Trowulan 1990
111 Sri Lestari Unsur-Unsur Arsitektur Barat di Kraton Surakarta 1990
112 Tri Hartono Kompleks Makam Sunan Prepen (Tinjauan Terhadap Latar Belakang Pendiriannya) 1990
113 Wisnu Werdhana Kereta-Kereta Kraton Yogyakarta: Analisis Bentuk dan Teknologi Pembuatannya 1990
114 Bimo Putranto, M. Arca-Arca Belum Sempurna (Batasan Pengertian dan Pentahapannya) 1991
115 Budi Amuranto Fungsi Gerabah Kubur Kalang Ditinjau dari Segi Bentuk, Spasial, Konteks, dan Analogi Etnografi 1991
116 Budi Istiawan Penulisan dan Prosedur Penulisan Prasasti di Jawa Abad IX-X Masehi 1991
117 Budi Wiyana Kajian Arkeologi Tentang Kelir Makam di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Tinjauan Terhadap Keletaka, Bentuk, dan Fungsinya) 1991
118 Dyah Paramita Pengaruh India Pada Gaya Arsitektur Rumah Tinggal Majapahit: Studi Mengenai Pengaruh Iklim dan Penyimpangan Gaya 1991
119 Ignatius Suharno Perkembangan Kebudayaan di Kompleks Situs Pugung Raharjo Metro Lampung Tengah 1991
120 Indung Panca Putra Tuban Sebagai Kota Pelabuhan Abad XVI Masehi (Tinjauan Atas Fungsi dan Peranannya Dalam Perdagangan) 1991
121 Ismail Lutfi Telaah Prasasti Dalam Hubungannya Dengan Candi Panataran 1991
122 Lestari Wardani Pola Perkampungan Kota Kudus Lama (Tinjauan Berdasarkan Toponim) 1991
123 Priadi Anggoro Prasasti Horren: Tinjauan Isi dan Masalahnya 1991
124 Punkie Lelly Kumarasari Sistem Kesehatan Dalam Masyarakat Jawa Kuna Pada Abad XIV Sampai XV Masehi: Kajian Berdasarkan Data Tertulis 1991
125 Retno Handini Upacara Penguburan Pada Masyarakat Tionghoa Beragama Khonghucu di Pemalang, Yogyakarta, dan Temanggung (Studi Arkeologi) 1991
126 Retno Purwanti Pengaruh-Pengaruh Majapahit di Daerah Kalimantan Selatan Antara Abad XIV-XVI Masehi 1991
127 Slamet Sujud Purnawan Jati Peranan Jenis-Jenis Binatang Pada Masyarakat Pendukung Situs Gunung Wingko 1991
128 Sugeng Riyanto Pandangan Masyarakat Jawa Kuna Abad X-XV Masehi Terhadap Dewa Indra 1991
129 Supian Bin Sabtu, Mohd. Peninggalan Menhir di Pengkalan Kempas, Negeri Sembilan Dengan Menhir di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat 1991
130 Supriagung Pengarcaan Manjusri Pada Masa Mataram Kuna di Jawa Tengah (Sebuah Tinjauan Berdasarkan Ciri Ikonografi) 1991
131 Sutrisno Tipe dan Kronologi Situs Cipari, Kuningan, Jawa Barat: Tinjauan Berdasarkan Analisis Kontekstual 1991
132 Teguh Hidayat Pengarcaan Dvarapala di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Sebuah Analisis Perbandingan Gaya) 1991
133 Tri Marhaeni Sosiana Lingga Batu dari Jawa Tengah: Sebuah Kajian Ikonometri 1991
134 Aloysius Dwi Jaka Junianto Garudamukha Sebagai Lambang Kerajaan Airlangga dan Raja-raja Penggantinya (Tinjauan Berdasarkan Fungsi dan Maknanya) 1992
135 Aziz B. Abdul Rashid, Abd. Inskripsi Pada Keramik di Gapura III dan Kelir Makam Sunan Bonang di Kota Tuban: Sebuah Telaah Epigrafi 1992
136 Esthi Kartikaningsih Peranan dan Kedudukan Warga Kilalan di Jawa Pada Abad IX-XI M 1992
137 Hariawan Winantu Basuki Stupika Borobudur Teknologi Pembuatan dan Fungsinya 1992
138 Hermawati Fungsi Motif Hias Wadasan Pada Kepurbakalaan Islam di Cirebon Abad XVII-XIX M 1992
139 Joko Siswanto Stratifikasi Sosial Masyarakat Bali Pada Akhir Masa Prasejarah: Tinjauan Atas Variasi Sarkofagus 1992
140 Ririet Suryandari Prasasti Sucen Koleksi Museum Nasional: Telaah Isi Prasasti dan Fungsi Chatra 1992
141 Septihandri Budi Listyanto Tradisi Megalitik di Kawasan Puncak Lawu (Tinjauaan Arsitektural Bangunan Berundak) 1992
142 Siti Maziyah Pembatasan Usaha Perdagangan di Daerah Sima Pada Abad X Masehi, Tinjauan Berdasarkan Kedudukan Daerah Sima 1992
143 Suciati Rahayu Proses Terbentuknya Sampah Kerang di Situs Rawa Pening (Studi Etnoarkeologi) 1992
144 Suwarno Dolmen Daerah Grujugan Bondowoso (Tinjauan Tentang Bentuk dan Latar Belakangnya) 1992
145 Teguh Martoyo Setomo Pola Ekonomi Masyarakat Pesisir Utara Jawa Timur Sekitar Abad XIII-XV M 1992
146 Tri Hartini Arsitektur Pura Mangkunegaran: Tinjauan Terhadap Beberapa Aspek yang Mempengaruhinya 1992
147 Wahyuni Triasih Pripih Logam Pada Beberapa Candi Jawa Kuno: Studi Arti Simbolis Bentuk dan Peletakannya 1992
148 Yuni Sasongko Pemukiman Cina di Ketandan Yogyakarta Abad XVIII-XIX (Kajian Terhadap Aspek Ekonomi, Sosial dan Keamanan) 1992
149 Agung Wijaya, Julius Pemanfaatan Sumberdaya Kerang Pada Masyarakat Pantai Masa Perundagian 1993
150 Agustynus Sugianto Dewa Visnu dan Avatara-Nya Pada Periode Klasik Jawa Tengah Tinjauan Terhadap Peran, Kedudukan, dan Latarbelakang Pemujaanya 1993
151 Anggraeni Tri Utami Prasasti Pamotoh: Telaah Isi dan Tinjuan Hak-Hak Istimewa 1993
152 Bambang Sugiyanto Bentuk dan Fungsi Susunan Batu Temu Gelang Beberapa Situs di Indonesia 1993
153 Diyah Dwilestari Hastuti Prasasti Bilingual di Jawa dan Bali Abad IX-XI: Hubungannya Dengan Tokoh-Tokoh yang Menetapkan 1993
154 Doni Sugio Budi Susantyo Punden Berundak di Jawa Barat: Tinjauan Atas Bentuk Denah 1993
155 Dwi Supranto Paleolitik Kali Kuning: Suatu Analisis Teknologi, Tipologi, dan Pertanggalan Relatifnya 1993
156 Eny Unsur Totemisme Pada Lukisan Dinding Gua di Irian Jaya 1993
157 Hadjuddin Abbas Gapura-Gapura Periode Jawa Timur Akhir Abad XIV-XV M (Tinjauan Atas Bentuk Ukuran, dan Tata Letak) 1993
158 Joko Singgih Triwindarta Stratifikasi Sosial Masyarakat Madura Barat Pada Abad XVII – XVIII M (Tinjauan Berdasarkan Perbedaan Makam-Makam di Kompleks Makam Aermata) 1993
159 Linda Isack Faktor-Faktor Pendukung Munculnya Domestikasi Padi di Situs Ulu Leang 1 1993
160 Mahartono Pola Perdagangan Masyarakat Lamalera, Nusa Tenggara Timur: Suatu Studi Etnoarkeologi 1993
161 Mimi Lumbiyantari Teknik Hias Gerabah Gunung Wingko: Suatu Percobaan Peniruan 1993
162 Mimi Savitri Musyawarah Pada Masa Pemerintahan Hayam Wuruk: Tinjauan Terhadap Fungsi dan Peran Serta Hubungannya Dengan Kekuasaan Raja 1993
163 Nareswara Pengertian dan Fungsi Petirtaan Pada Masa Klasik di Jawa 1993
164 Ninik Budi Setyowati Teknologi dan Fungsi Alat Kulit Kerang Situs Mulyorejo, Cepu 1993
165 Noer Renaningtyas Relief Kinnara Pada Candi Periode Klasik Jawa Tengah (Tinjauan Berdasarkan Variasi Penggambaran dan Penempatannya Pada Bangunan Candi 1993
166 Retno Moerdianti Candi Kepung, Kediri, Jawa Timur: Tinjauan Arsitektur, Arti Simbolis, Fungsi, dan Penjamaan 1993
167 Rosa Iriana Setyawati Tata Rambut Wanita Pada Relief Candi Panataran (Suatu Mode Tata Rambut Wanita Jawa Kuna Abad XIV Masehi) 1993
168 Rusmulia Tjiptadi Hidayat Alat Serpih Sangiran Koleksi Museum Nasional Jakarta: Tipologi, Teknologi, dan Posisi Stratigrafinya 1993
169 Singgih Hapsoro, Stanislaus Pemugaran Kompleks Candi Ceto Tahun 1978 (Sebuah Studi Tentang Perkembangan Budaya) 1993
170 Sri Rahayu Ujianti Pola Keletakan Situs-Situs Megalitik di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah 1993
171 Sugeng Widodo Arca Tradisi Megalitik Batur Agung Dalam Perbandingan Gaya 1993
172 Sukawati Susetyo Cerita Sri Tanjung: Studi Perbandingan Antara Relief Dengan Naskah Cerita 1993
173 Tommy Aryanto Periodisasi Kompleks Candi Gedongsongo Ditinjau dari Segi Arsitekturalnya 1993
174 Trubus Candi Keboireng, Pasuruan dan Beberapa Permasalahannya: Kajian Atas Data Hasil Ekskavasi 1985 1993
175 Vida Pervaya R. Kusmartono Analisis Artefaktual dan Kontekstual Keramik Cina di Sektor Nglinguk, Sentonorejo dan Pendopo Agung Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur 1993
176 Wahyu Widodo Ragam Bentuk Mihrab Mesjid-Mesjid Kuno di Jawa Tengah Bagian Selatan (Sebuah Penelitian Pendahuluan) 1993
177 Yudono Yanuar A. Pemilihan Bahan Arca Batu Pada Masa Klasik Jawa Tengah 1993
178 Yunan Helmy Zakaria Arsitektur Kota Lasem (Tinjauan Mengenai Pengaruh Masyarakat Cina) 1993
179 Yudono Yanuar A. Pemilihan Bahan Arca Batu Pada Masa Klasik Jawa Tengah 1993
180 Agus Wibowo Motif Hias Pakaian Abad XI-XV M: Sebuah Studi Tentang Variasi Bentuk dan Teknik Pembuatannya 1994
181 Aloysius Haris Santanu Peranan Ganesa Dalam Kehidupan Masyarakat Bali (Studi Etnoarkeologi) 1994
182 Amir Panzuri Pola Persebaran Ruang Pemukiman Kota Cirebon Semasa Pemerintahan Sunan Gunung Jati-Panembahan Ratu (1482-1650 M) 1994
183 Anas Mubakir Latar Belakang Pemasangan Ubin Berhias di Gedung Dalem Agung Panembahan Pakungwati Kraton Kasepuhan Cirebon 1994
184 Ariandono Dijan Winardi Arca-Arca Megalitik Pasemah Sebagai Penunjuk Adanya Golongan Elit Masyarakat Perundagian 1994
185 Arni Suryani Wulandari Lingga, Arca, dan Padmasana: Tinjauan Perkembangan Konsep Pemujaan Terhadap Dewa Ciwa Pada Masa Klasik di Jawa dan Bali 1994
186 Aswoto Peranan Pakaian Pada Masa Jawa Kuno: Tinjauan Berdasarkan Prasasti Abad IX-XI Masehi 1994
187 Boedi Soetanto, Moech. Gerakan Milenarisme di Candi Sukuh: Sebuah Penelitian Uji Hipotesis 1994
188 Budi Suryanto Nekara Perunggu Koleksi Museum Negeri Ronggo Warsito Semarang: Tinjauan Berdasarkan Analisis Unsur 1994
189 Budi Wijiningsih Cara Penangkapan Ikan Pada Masyarakat Dukuh Tambakrejo, Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Studi Etnoarkeologi) 1994
190 Citra Triwamwoto, P. Gaya Seni Arca Masa Singhasari: Telaah Atas Ciri-Ciri dan Penyebab Munculnya 1994
191 Danang Rudatin Pintu Gerbang-Pintu Gerbang Kraton Yogyakarta: Tinjauan Terhadap Keletakan, Fungsi dan Bentuknya 1994
192 Didiek Surjanto Studi Wilayah Atas Kepurbakalaan di Gunung Lawu (Sebuah Kasus Akulturasi) 1994
193 Fahmi Prihantoro Mesjid Kabupaten dan Kawedanan di Jawa Tengah Abad Ke-19 Sampai Awal Abad Ke-20: Tinjauan Politik Atas Bentuk Penampilan, Peran, dan Fungsi 1994
194 Goannie Wibawa Makna dan Arti Simbolis Saji-Sajian Pada Masyarakat Jawa (Studi Etnoarkeologi dan Prasasti) 1994
195 Goenawan Agoeng B. Sambodo Peranan dan Kedudukan Tokoh Militer Pada Masa Pemerintahan Airlangga (Sebuah Tinjauan Sosial Politik) 1994
196 Gusti Akhmad Rafiq Masjid Sultan Suriansyah: Tinjauan Tentang Peranannya Dalam Masyarakat Banjarmasin 1994
197 Haris Shantanu, Aly. Peranan Ganesha Dalam Kehidupan Masyarakat Bali (Studi Etnoarkeologi) 1994
198 Hutama Canggu: Pelabuhan Sungai Masa Majapahit, Identifikasi Toponim Kuna Dengan Pendekatan Arkeo-Geomorfologi 1994
199 Iis Dwi Yulianawati Pola Pemukiman Desa Tenganan Pegringsingan dan Aspek-Aspek yang Mempengaruhi (Studi Etnoarkeologi) 1994
200 Irna Saptaningrum Pola Perkampungan Lama di Wilayah Puro Pakualaman 1994
201 Iswahyudi Susasifitri Altar Punden Berundak di Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna (Tinjauan Bentuk, Fungsi, dan Latar Belakang Keagamaan) 1994
202 Jeannie I.K., R.A.M.O. Strategi Adaptasi Pendukung Situs Warloka, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur 1994
203 Johanda Karihadi Fungsi dan Peranan Situs Kodedek Pada Masyarakat Pendukung Budaya Megalitik Bondowoso 1994
204 Mohammad Tavip Pasar Induk di Ibukota Kerajaan Mataram Islam: Tinjauan Keletakan dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Kota 1994
205 Nunuk Dwi Hastuti Setyawati Latar Belakang Pendirian Siti-Inggil di Kraton Kasepuhan, Kanoman, Surakarta, dan Yogyakarta (Suatu Kajian Arkeologis) 1994
206 Nurul Majid Bong Cina di Lasem: Studi Mengenai Variasi Bentuk, Hias dan Arti Simbolisnya 1994
207 Oerip Bramantyo Budi Interaksi Sosial Antara Pihak Kraton Yogyakarta Dengan Kelompok Etnis Cina di Kota Yogyakarta (Hamengkubuwono I-Hamengkubuwono VIII) 1994
208 Rena Mita Dhina Thirta Perubahan Budaya Masyarakat Masa Prasejarah di Jawa (Studi Kasus dari Masa Bercocok Tanam Hingga Masa Perundagian) 1994
209 Rochimah Darpana Perunggu: Tinjauan Atas Fungsi dan Peranannya 1994
210 Sih Yuanti Gapura Bentar Periode Jawa Timur (Tinjauan Atas Bentuk, Tata Letak, Fungsi, dan Latar Belakangnya) 1994
211 Sri Hartati Aspek-Aspek Megalitik Dalam Upacara Rebanage di Pulau Flores Tengah (Studi Etnoarkeologi) 1994
212 Suci Prihartiningsih Bentuk Rumah Pada Masa Perundagian dan Perkembangannya Studi Arkeologi dan Etnoarkeologi 1994
213 Sugihardi Gerabah di Situs Candi Bogang Wonosobo-Jawa Tengah: Suatu Analisis Pendahuluan Temuan Ekskavasi 1994
214 Suhamdani Pola Distribusi Situs-Situs Megalitik di Gunung Kidul 1994
215 Susiana Ananta Adi Pembuatan dan Penggunaan Jaring Serat Gebang di Kabupaten Kendal Studi Etnoarkeologi 1994
216 Syafruddin Angkat Tinjauan Arsitektur Kelompok Makam Panembahan Natakusuma di Kompleks Makam Asta Tinggi Sumenep 1994
217 Tetty Indayanti I.M. Mutilasi Gigi dan Dampaknya dari Segi Kesehatan. (Studi Etnoarkeologi di Dusun Ngruki Sukoharjo) 1994
218 Titik Sulistyowati Latar Belakang Penempatan Pemukiman Prajurit Kraton Yogyakarta 1994
219 Totok Suharyanto Motivasi dan Teknik Berburu Binatang Pada Masa Jawa Kuna Abad VIII-IX M. (Studi Etnoarkeologi di Petungkriyono Pekalongan) 1994
220 Tri Lestari Dewi Saraswati Kelompok Dewa Pariwara Kecil di Candi Prambanan, Sewu, dan Sari 1994
221 Utami Nilasari Model Distribusi Alat-Alat Besi Studi Kasus Pada Industri Alat Besi Tradisional di Desa Gilangharjo (Bantul) 1994
222 Vera Julianti Unsur Totemisme Dalam Sistem Kepercayaan Etnik Cina di Semarang: Tinjauan Berdasarkan Ornamen Kelenteng 1994
223 Wardaya Pemanfaatan Tatal Batu: Suatu Analisis Fungsi Dalam Perbengkelan Neolitik di Situs Tipar Ponjen, Purbalingga 1994
224 Wasita Situs Jatiagung, Jember: Tinjauan Tipe dan Kronologi 1994
225 Wiwing Wimbo Widayanti Upaya Pelestarian Lingkungan Pada Masyarakat Jawa Kuna Berdasarkan Prasasti Abad V-XV M 1994
226 Wiwit Kasiyati Penempatan Arca-Arca Utama Pada Candi Siva Kompleks Rara Jongrang 1994
227 Agus Hartana Keberadaan Maqsurah di Mesjid-Mesjid Agung di Jawa: Tinjauan Berdasarkan Fungsi 1995
228 Agustijanto Indradja Fungsi Situs Telaga Rancamaya Pada Masa Kerajaan Sunda: Masa Pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482-1521 M) 1995
229 Ambar Utari Teknik Pembuatan Patung-Patung Terakota Masa Majapahit: Studi Etnoarkeologi dan Eksperimen 1995
230 Aris Budi Prasetya Identifikasi Artefak Batu Situs Kenteng, Semali, dan Kedungbulus di Gombong 1995
231 Chairul Anwar Fungsi Candi Sari: Kajian Ciri Fisik Arsitektur 1995
232 Dwi Agung Hernanto Perancangan Bangunan Candi Berbilik Satu Periode Jawa Tengah (Tinjauan Perbandingan Komponen Bangunan) 1995
233 Edi Seno Adji Pola Tangga Candi-Candi Periode Jawa Timur: Studi Kasus Pada Candi Jago dan Candi Induk Panataran Berdasarkan Kajian Arsitektural 1995
234 Halomoan Pangaribuan Perkembangan Bentuk Kubur di Daerah Batak 1995
235 Hartatik Unsur Pola Hias Cina Pada Nekara Indonesia Timur Koleksi Museum Nasional Jakarta 1995
236 Hindati Pola Tata Kota Jepara Abad XVII-XVIII M 1995
237 Indah Wulaningsih Candi Mantup (Tinjauan Arsitektural, Ikonografis, dan Fungsi) 1995
238 Kristantina Indriastuti Pola Pemukiman Masyarakat Ngada Kampung Wogo, Flores Tengah 1995
239 Made Budiana Setiawan, I G.N. Pergeseran Kedudukan Pejabat Tinggi Kerajaan Mataram Kuno Pada Abad IX-X Masehi: Kajian Terhadap Situasi Politik Pemerintahan 1995
240 Muslimah Sujiyanti Fungsi dan Peranan Kolenjer Dalam Kehidupan Masyarkat Baduy: Studi Etnoarkeologi 1995
241 Nia Kania Purnamasari Teknik Bercocok Tanam di Jawa Barat Pada Masa Bercocok Tanam: Analisis Berdasarkan Alat Pertanian dan Lingkungan 1995
242 Nugroho Widi Hantoro Calon Beliung Situs Ngrijang Sengon di Punung Pacitan: Tinjauan Teknologis Berdasarkan Data Permukaan 1995
243 Nur Riyadi Wibawa Unsur Religius Pada Tradisi Repam Gigi di Daerah Istimewa Yogyakarta 1995
244 Rahim Nurana Ragam Hias Pada Kekunoan Islam di Cirebon dan Ragam Hias Pada Batik Tradisional Cirebon 1995
245 Ratna Arum Widyati, Rr. Ragam Hias Arca dan Relief Singa Pada Bangunan Candi Masa Jawa Tengah Abad VIII-X Masehi: Studi Tentang Bentuk dan Gaya Seni Hiasnya 1995
246 Rini Hidayah Kesinambungan Budaya Pra Islam Pada Arsitektur Masjid Kuna di Yogyakarta 1995
247 Ruslaini Teknologi Alat Besi Kuna dari Gumukmas: Studi Kasus di Situs Panggulmlati dan Situs Jatiagung Tinjauan Berdasarkan Analisis Metalografi 1995
248 Sarjiyanto Sistem Perekonomian Kota Kerajaan Mataram Islam: Kajian Lokasi, Struktur, dan Proses 1995
249 Setya Sarosa Dominasi Bata Pada Bangunan Candi (Studi Kasus Pada Candi Brahu, Bajangratu, dan Candi Tikus) 1995
250 Slamet Prihadi S. Pola Sebaran Situs-Situs Megalitik di Bondowoso Kajian Spasial Skala Makro 1995
251 Sri Agustina Mahayani Bentuk-Bentuk Arsitektur dan Konsep Religi Pendukungnya di Pemukiman Suku Sasak-Dusun Sade Lombok-Nusa Tenggara Barat (Studi Etnoarkeologi) 1995
252 Sri Widayanti W. Aspek Perkawinan Golongan Penguasa di Jawa Timur Abad XI-XV M 1995
253 Supriyatno, Y. Cincin Emas di Situs Wonoboyo Klaten – Jawa Tengah: Tinjauan Fungsi dan Teknik Pembuatan 1995
254 Teguh Handoyo, Cirilus Produksi Situs Karangnunggal Dalam Perbandingan Dengan Beberapa Situs di Jawa 1995
255 Toto Harryanto Aspek Keruangan, Sintaktik, dan Semantik Lukisan Dinding Gua dan Ceruk di Desa Bolo, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara 1995
256 Widiyastuti Fungsi, Latar Belakang Pendirian, dan Peranan Masjid-Masjid Pathok Negara di Kasultanan Yogyakarta 1995
257 Widya Rahmayani Aspek Pendidikan Politik Pada Relief Cerita Ramayana di Candi Panataran dan Kakawin Ramayana 1995
258 Y. Supriatno Cincin Emas di Situs Wonoboyo-Klaten-Jawa Tengah: Tinjauan Fungsi dan Teknik Pembuatan 1995
259 Adi Purwanto Candi-Candi Tebing di Sepanjang Sungai Pakerisan Bali: Tinjauan Fungsi, Konsep, dan Latar Belakang Pendiriannya 1996
260 Andry Priyatna Kompleks Megalitik Sumber Malang, Situbondo Kajian Atas Fungsi dan Kaitannya Dengan Kompleks Megalitik Bondowoso 1996
261 Asih Sri Rahayu Penggambaran Cerita Samudramanthana Pada Periode Jawa Timur 1996
262 Asmara Dewi Pola Tata Kota Benuwo di Pasir Balengkong Kalimantan Timur: Tinjauan Berdasarkan Tata Letak Unsur-Unsurnya 1996
263 Brediana Dwimarta Latar Belakang Pemilihan Episode Cerita Kresna di Candi Wisnu Candi Panataran dan Candi Jago 1996
264 Cahyo Wibowo Latar Belakang Tata Letak Candi-Candi Perwara Budha di Daerah Prambanan 1996
265 Dyah Kalsitorini Perbandingan Pola Hias Dolmen di Daerah Pantai dan Pegunungan Sumba Timur: Tinjauan Etnoarkeologi 1996
266 Eri Budiarto Gua Bulu Sumi dan Gua Sumpang Bita di Desa Balocci Baru Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan 1996
267 Gufron Kompleks Masjid Jami’Kauman di Beberapa Kampung Kauman di Jawa: Kajian Tentang Keletakan 1996
268 Ilmi Albiladiyah, S Pandangan Masyarakat Jawa Kuno Terhadap Dewi Kesuburan Berdasarkan Relief Hariti Pada Candi Mendut dan Pawon 1996
269 Imelda Vera M. Aritonang Hirarkhi Pura di Bali, Kajian Etnoarkeologi Berdasarkan Jenis dan Bentuk Peralatan Gerabah untuk Upacara di Pura: Studi Kasus di Desa Pejeng Gianyar 1996
270 Lutfi Rachmat Hidajanto Tradisi Pengobatan Suku Dayak di Tayan Hulu Kabupaten Sanggau-Kalbar: Studi Etnoarkeologi 1996
271 Meitya Yulianty Kota Penyengat Indrasakti, Kepulauan Riau: Studi Arkeologi Perkotaan 1996
272 Missa Demettawati, F.A Candi Sumberjati Sebagai Tempat Pendharmaan Raja Krtarajasa Dalam Perwujudannya Sebagai Harihara 1996
273 Mugi Agusmiyati Variasi Bentuk Pakaian Wanita Abad X-XV M Berdasarkan Penggambaran Pada Relief Candi di Jawa 1996
274 Ni Luh Nyoman Rarianingsih Variasi Bentuk Hiasan Relung Pada Tubuh Candi-Candi Periode Jawa Tengah 1996
275 Nurul Laili Pola Sebaran Situs-Situs Perbengkelan Beliung Persegi dan Gelang Batu di Kabupaten Purbalingga 1996
276 Parjana Latar Belakang Keagamaan dan Fungsi Candi Plaosan Lor 1996
277 Ratna Dwiatmi D. Mustikasari Identifikasi Relief Berdasarkan Naskah Kesusasteraan (Studi Kasus Terhadap Pintu Gerbang Majapahit di Kota Pati) 1996
278 Riswinarno Handedness Pada Kapak Genggam Paleolitik Pacitan 1996
279 Susilo Latar Belakang Penempatan Dewa Trimurti Pada Candi Srikandi, Dieng 1996
280 Uji Kusumawarti A., F Pola Hari Pasar di Kabupaten Gunung Kidul (Suatu Studi Etnoarkeologi dan Etnohistori) 1996
281 Yaya Juhria Inskripsi-Inskripsi Pada Kompleks Makam Bupati Sukapura di Manonjaya Tasikmalaya Jawa Barat (Sebuah Kajian Epigrafi) 1996
282 Yogi Piskonata Strategi Subsistensi Pendukung Budaya Situs Gua Macan: Tinjauan Berdasarkan Data Ekskavasi 1996
283 Yovita Maya Wresti Tradisi Pemujaan Masyarakat Cina Yogyakarta: Studi Etnoarkeologi di Vihara Cetiya Buddha dan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Tee Kiong 1996
284 Adi Prasetijo Pola Pemukiman Masyarakat Lamonae, Kecamatan Asera, Kabupaten Kendari: Studi Etnoarkeologi 1997
285 Agus Sudaryadi Latar Belakang Variasi Struktur Fondasi Bangunan Candi Periode Jawa Tengah: Studi Kasus Terhadap Candi yang Telah Dipugar 1997
286 Agustanto Triwidodo Peranan Prasasti Dalam Masyarakat Jawa Kuna Pada Masa Pemerintahan Raja Balitung 1997
287 Akhmad Fauzi Faktor-Faktor yang Berpengaruh Dalam Kematian Komunitas Nelayan: Studi Berdasarkan Kesehatan Lingkungan di Situs Gilimanuk 1997
288 Desse Yussubrasta Analisis Korelasi Ukuran-Ukuran Pada Tempayan Keramik Koleksi Museum Nasional Jakarta 1997
289 Dian Lakshmi Pratiwi Perubahan Budaya di Kepulauan Paparan Sunda Pada Masa Proto-Sejarah (Kajian Nekara Perunggu) 1997
290 Dyah Paramita Candravardhani Keterbatasan Distribusi Artefak Tulang Pada Situs-Situs Gua di Jawa Timur 1997
291 Erlinawati Sistem Pertahanan Kesultanan Lingga (Tinjauan Berdasarkan Bentuk Arsitektur Kubu Pertahanan) 1997
292 Handarto Gapura Masjid Agung Sumenep: Tinjauan Berdasarkan Arsitektur, Konsep, dan Fungsi 1997
293 Hery Suyamto Karakteristik Candi Bima di Dieng (Tinjauan Berdasarkan Data Arsitektural) 1997
294 Intan Salina Idrus Keterkaitan Tata Letak Kubur Batu dan Situs Hunian Pada Masyarakat Sumba Timur (Studi Etnoarkeologi) 1997
295 Isti Retno Kumaraningrum, Rr, Nilai-Nilai Kepahlawanan Krsna dan Latar Belakang Penggambarannya Dalam Relief Cerita Krsnayana di Candi Panataran 1997
296 Joko Suseno Unsur Arsitektur Asing Pada Kraton Sumenep 1997
297 Luhur Budiharto Perubahan Pola Subsistensi di Areal Waduk Saradan Madiun: Studi Etnoarkeologi 1997
298 Lukman Penambangan Timah Tradisional di Pulau Singkep: Suatu Kajian Etnoarkeologi dan Etnohistori 1997
299 Misbachul Munir Hiasan Kalpataru Pada Candi Budha Periode Jawa Tengah: Tinjauan Terhadap Bentuk, Pola Penempatan, dan Fungsi 1997
300 Nugroho Nur Susanto Simbolisme Mustaka Sebagai Kemuncak Bangunan (Tinjauan Tentang Fungsi dan Arti) 1997
301 Nunuk Wijayanti Pemukiman Kota Buton Pada Abad XVII-XIX 1997
302 Riris Purbasari Perkembangan Pola Tata Ruang Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta Tahun 1887-1997 1997
303 Sarwiyono Makna Simbolis Pola Hias Pada Talam Perunggu Koleksi Museum di Jawa 1997
304 Septina Wardhani Gambar-Gambar Pada Prasasti Berbahasa Jawa Kuna, Abad IX-XVI Masehi: Tinjauan Atas Fungsi dan Latar Belakang Pencantumannya 1997
305 Sri Djatiningsih Secundina, Pola Persebaran Situs-Situs Kepurbakalaan Klasik di Gunung Kidul 1997
306 Sudalyanto Perubahan dan Perkembangan Penggunaan Komponen-Komponen Kompleks Makam Raja-Raja Abad XVI Masehi-XVII Masehi di Jawa Bagian Tengah 1997
307 Wahju Wibowo Keterkaitan Antara Pendukung Budaya Megalithik dan Lingkungannya di Daerah Hulu Bahau Kec. Pujungan, Kab. Bulungan, Kalimantan Timur: Studi Etnoarkeologi 1997
308 Wahyuni Dwi Pamulatsih Gerabah Situs Ayamputih dan Gerabah Tradisional Pejagatan dan Gebangsari Dalam Perbandingan (Suatu Tinjauan Etnoarkeologi) 1997
309 Wiweko Sulistyo W Alternatif Pola Penghunian Situs Bukit Kerang Kecamatan Hinai Sumatera Utara 1997
310 Adhi Surjana Strategi Adaptasi Masa Prasejarah di Kawasan Danau Bandung Purba: Tinjauan Berdasarkan Persebaran Artefak 1998
311 Agung Wiratno Perbedaan Bentuk Budaya Masyarakat Penghuni Gua-Gua Prasejarah di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan 1998
312 Andi Putranto Gerabah Candi Ijo: Tinjauan Teknik Pembuatan, Bentuk, dan Fungsi 1998
313 Andjarwati Sri Sajekti Aspek Teknoekonomi Pada Kemunculan Alat-Alat Besi di Kawasan Gunung Kidul 1998
314 Ari Prasetyo Tata Letak Pintu Pagar Candi Pada Periode Jawa Tengah 1998
315 Aria Sumirat Kubur Tempayan Sebagai Salah Satu Unsur Tradisi Megalitik: Tinjauan Berdasarkan Aspek Konseptual 1998
316 Chandra Yudhiyanto, R Arsitektur Kompleks Candi Ijo (Studi Arkeologi Ruang Skala Mikro) 1998
317 Deddy Satria Nisan-Nisan di Situs Kampung Tibang, Aceh 1998
318 Dwi Agus Wahyudi Unsur-Unsur Arsitektur Tradisional Jawa Pada Bangunan-Bangunan Penunjang di Benteng Vredeburg 1998
319 Dwi Prasetyo Budi Santosa Kota Banda Neira Abad XVII-XIX Masehi 1998
320 Endang Widijastuti Penguburan Dalam Tempayan di Indonesia: Persamaan dan Perbedaan Dengan Asia Tenggara Lainnya 1998
321 Eni Caskinih Karakteristik Kota Bima Kuna (Abad XVII-XIX) 1998
322 Esti Susilaningtyas Komunitas di Sekitar Candi Borobudur: Tinjauan Berdasarkan Analisis Kontekstual 1998
323 Fransiscus Prihono Pola Pembagian Halaman di Kompleks Pendopo Ratu Boko dan Tiga Kompleks Puri di Bali 1998
324 Frida Khayatun Pemanfaatan Ruang di Situs Meleman: Studi Arkeologi Ruang Atas Data Arkeologi 1998
325 Hanung Rajendra Giridharma Domestikasi Gajah di Way Kambas: Studi Etnoarkeologi Tentang Teknik dan Alat Perlengkapannya 1998
326 Hendro Tri Tjahjono Pola Pemanfaatan Ruang Situs Song Keplek, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur: Kajian Arkeologi Ruang Skala Mikro 1998
327 Joni Putra Pola Penempatan Rumah Ibadah di Kenagarian Ujung Gading Kecamatan Lembah Malintang: Tinjauan Etnoarkeologis 1998
328 Lale Purwaningsih Pengaruh Sistem Penggembalaan Ternak Terhadap Pola Pemukiman di Lombok Selatan: Studi Etnoarkeologi di Dusun Sade dan Dusun Serenang 1998
329 Mohamad Muda Bin Bahadin Variasi Bentuk Kubur Dolmen Pada Masyarakat Pendukung Budaya Megalitik di Situs Pasunga, Situs Tarung, dan Situs Waiwuli, Kabupaten Sumba Barat, NTT 1998
330 Muhammad Junawan Kota Baru: Pola Pemukiman Masyarakat Belanda di Yogyakarta Tahun 1899-1936 1998
331 Nina Ulfah N. Gaffar Pola Pemukiman Masyarakat Kampung Ai Renung, Desa Batu Tring, Sumbawa: Studi Etnoarkeologi 1998
332 Nining Yuniati Pola Budaya Daerah Pantai dan Daerah Pedalaman Kawasan Tempursari, Lumajang: Pendekatan Arkeologi Lingkungan 1998
333 Panut Sujito, Andreas Gerabah Wonoboyo: Ciri Fisik dan Teknik Pembuatannya 1998
334 Purbo Winoto Pemilihan Lokasi Pendirian Candi Asu, Candi Pendem, dan Candi Lumbung Serta Penyebab Kerusakannya (Tinjauan Berdasarkan Lingkungan) 1998
335 Riris Purbasari Perkembangan Pola Tata Ruang Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta Tahun 1887-1997 1998
336 Sektiadi Representasi Binatang dan Pembentukan Simbol Pada Arsitektur Kraton Yogyakarta 1998
337 Sugeng Haryadi Rekonstruksi Jalur Pelayaran Perdagangan di Sungai Brantas Pada Masa Majapahit 1998
338 Sumarto Aji Purnomo Candi Kalasan dan Candi Sewu: Studi Berdasarkan Perbandingan Arsitekturnya 1998
339 Tri Harjanto Rekonstruksi Sejarah Dinasti Syailendra dan Kerajaan Mataram Kuna di Jawa Tengah Berdasarkan Prasasti Berbahasa Melayu Kuna 1998
340 Tri Wulandari Candi-Candi Masa Singhasari di Kabupaten Malang dan Sekitarnya. (Tinjauan Atas Aspek Keagamaan dan Sosial Politik) 1998
341 Wahyu Kristanto Pelayaran Masa Indonesia Klasik: Kajian Analogis Berdasarkan Eksperimen Pelayaran Tradisional 1998
342 Winarna Gapura Utama Kompleks Ratu Boko (Kajian Atas Teknik Konstruksinya) 1998
343 Yasid Mashudi Taman Narmada Sebagai Pesanggrahan (Tinjauan Berdasarkan Nilai Estetika, Filosofis, dan Fungsional) 1998
344 Yayuk Rustanti Visualisasi Garuda: Tinjauan Atas Variasi Penggambaran dan Penokohan di Jawa Abad IX-XV M 1998
345 Yuli Indriyanta Identifikasi Alat Batu Situs Song Keplek, Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur: Tinjauan Berdasarkan Teknologi 1998
346 Yuliana Endang Susilawati Kepemimpinan Kertanegara, Wijaya, dan Hayam Wuruk Dalam Perbandingan: Tinjauan Atas Aspek Religio-Politik 1998
347 Yustina Eko Susanti Analisis Kentongan Pada Pura Kahyangan Tiga: Tinjauan Berdasarkan Bahan dan Ukuran 1998
348 Agus Tri Hascaryo Sejarah Pembentukan Stratigrafi dan Kronologi Penghunian Prasejarah Situs Gua Macan 1999
349 Ambarsari Saptasari Variasi Prabha Pada Arca Batu Masa Jawa Kuna (Abad VII-XV M) 1999
350 Andito Purnomo Latar Belakang Tata Letak Candi Perwara Hindu di Daerah Prambanan 1999
351 Dimasdanang W., D Politik Penyatuan Wilayah Nusantara Kerajaan Majapahit: Berdasar Tinjauan Prasasti dan Sumber Tertulis Lainnya 1999
352 Dwiyanto Susilo Perawatan Jenazah Pada Periode Jawa Kuno: Studi Atas relief Ramayana Candi Prambanan, Relief Gua Selamangleng, dan Relief Candi Jago 1999
353 Edi Triana Lukisan Dinding Gua di Irian Jaya: Antara Makna Seni dan Religi 1999
354 Ery Soedewo Variasi Nisan-Nisan Kuna di Tuban 1999
355 Eullis Khumaeroh Refleksi Sufisme Pada Motif Hias Nisan Makam di Beberapa Kompleks Makam di Banten Lama 1999
356 Fajar Muhammad Sidik Jaringan Interaksi Situs Sampung dan Situs-Situs Gua di Pacitan 1999
357 Fajar Nugroho Analisis Lokasional Terhadap Keberadaan Situs Kompleks Candi Gedongsongo 1999
358 Feni Aditiyawati Situs Ratu Boko Barat: Kajian Atas Fungsi dan Kedudukannya 1999
359 Hannibal Hutagalung Pemanfaatan Situs Gua Golo, Pulau Gebe (Maluku) Sebagai Hunian Kala Plestosen Akhir-Holosen 1999
360 Intan Tara Shintorini Upacara Berburu di Kampung Boawae, Kabupaten Ngada, Flores Tengah: (Studi Etnoarkeologi) 1999
361 Jajang Agus Sonjaya Sebaran Situs-Situs Megalitik di Kabupaten Kuningan: Kajian Mengenai Lingkungan dan Konsep-Konsep Religi yang Mempengaruhi 1999
362 Kristofianto Florentinus Tradisi Bercocok Tanam Secara Tradisional di Daerah Gunung Kidul (Studi Kasus di Daerah Panggang, Paliyan, dan Karangmojo) 1999
363 Kuswanto Arsitektur dan Ragam Hias Pintu Gerbang Beberapa Kompleks Makam Para Wali (Kajian Local Genius Pada Masa Islam di Jawa) 1999
364 Luthfi Yoesoef Gerabah Ratu Boko: Tinjauan Bentuk, Hiasan, dan Bentuk 1999
365 Novarini Teknik Pengelolaan Air di Kompleks Taman Sunyaragi, Cirebon 1999
366 Novelis Agung P.S.P Pola Keruangan Situs Gua Babi, Tabalong, Kalimantan Selatan: Kajian Arkeologi Ruang Skala Mikro 1999
367 Pramusetyo Tri Waluyojati Talud di Ratu Boko: Kajian Atas Bentuk, Konstruksi, dan Fungsi 1999
368 Rhodhotul Elmi Pembuatan Artefak Emas di Sendang Duwur: Studi Etnoarkeologi 1999
369 Rosi Damayanti Distribusi Situs Masa Sriwijaya di Kotamadya Palembang< 1999
370 Widhi Cahya Prasmita Cakupan Situs Sangiran: Kajian Berdasarkan Alat Serpih 1999
371 Yasa Arimbawa, I Gde Pengaruh Majapahit Pada Stratifikasi Sosial Masyarakat Bali 1999
372 Zulkarnain Makam Raja-Raja Kesultanan Pasir Balengkong (Tinjauan Atas Bentuk Makam dan Ragam Hiasnya) 1999
373 Abdullah Mesjid Indrapuri di Aceh Besar (Tinjauan Tata Letak dan Arsitektur) 2000
374 Agus Soetianto Studi Etnoarkeologi Terhadap Usaha Peniruan Tempayan Cina Kuno di Pabrik Keramik Sinar Terang Kecamatan Tujuhbelas, Kalimantan Barat 2000
375 Annur Suryani Purnakalasa Dalam Releif Cerita di Candi Borobudur (Kajian Atas Variasi Penggambaran, Fungsi, dan Peranannya) 2000
376 Antar Nugroho Pola Sebaran Situs-Situs Masa Klasik di Kulonprogo 2000
377 Arif Riyanto Penggambaran Gajah Pada Relief Cerita di Candi Borobudur 2000
378 Arisatya Yogaswara Reinterpretasi Arca-Arca Buddhis di Candi Mendut Tinjauan Atas Makna Simbolisnya Berdasarkan Kajian Etnoarkeologi 2000
379 Asih Purwati Keterkaitan Antara Penji dan Reti di Sumba Timur: Suatu Kajian Etnoarkeologi 2000
380 Bagus Ujianto Fungsi Situs Gambirowari Tinjauan Artefaktual 2000
381 Daru Istiarin Perkembangan Tata Letak dan Fungsi Ruangan Pada Rumah Sakit Panti Rapih 2000
382 Dewi Puspito Rini Identifikasi Arca-Arca Buddha di Vihara Buddha Prabha 2000
383 Diastutik Permakaman Para Bupati di Bojonegoro (Kajian Tentang Tata Letak dan Arsitektur) 2000
384 Didik Suhartono Site Catchment Analysis Pada Penghunian Gua di Kawasan Tuban 2000
385 Dody Wiranto Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat Marga Mulya di Yogyakarta 2000
386 Dwi Rahayu Samsiani Arsitektur Bangunan Gedhong Jene, Gedhong Purworetnodan Kedhaton Wetan di Kompkeks Kraton Yogyakarta: Studi Tentang Gaya Bangunan dan Latar Belakang Keberadaannya 2000
387 Euis Hadiati Pengasuhan Anak Berdasarkan Kajian Relief Candi Borobudur 2000
388 Firmani Nurhayati Perawatan Tubuh Pada Masa Jawa Kuna Abad IX-XIV Masehi (Tinjauan Atas Ramuan, Proses Pembuatan, dan Penggunaannya) 2000
389 Hendrika Tri Sumarni Variasi Pakaian dan Perhiasan Arca Batu Durga Mahisasuramardini Koleksi Museum Nasional Jakarta 2000
390 Henky Iriawan Keterkaitan Antara Pripih, Wadah Pripih, dan Penempatannya: Studi Kasus di Kompleks Candi Rara Jonggrang 2000
391 Indah Purnastuti Periodesasi Percandian Dieng Berdasarkan Arsitektur 2000
392 Iwan Setiawan Bimas Transaksi Tanah Pada Masa Klasik di Jawa: Tinjauan Atas Prasasti Abad IX-X M 2000
393 Johny Eko Nugroho Peninggalan Megalitik di Bukit Tutari Doyo Lama Irian Jaya 2000
394 Kus Adhi Widodo Kedudukan Bangunan Candi Terhadap Titik Pusat Halaman Candi 2000
395 Laila Abdul Jalil Dayah Teungku di Anjong: Tinjauan Arsitektur, Fungsi, dan Eran 2000
396 Manggar Sari Ayuati Makna dan Fungsi Relief-Relief di Candi Morangan 2000
397 Masnauli Butarbutar Kompleks Candi Situs Padang Lawas Sumatera Utara: Tinjauan Terhadap Denah dan Ukuran, Bentuk, Bahan, dan Tata Letaknya 2000
398 Nursiah Tata Ruang Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta 2000
399 Paulina Saras Wahyuprekis Batik Motif Semen Rama: Tinjauan Atas Perubahan Bentuk Ornamen dan Makna Simbolisnya 2000
400 Ratnawati Bentuk Makara Pada Candi-Candi Budha di Daerah Prambanan 2000
401 Shanty Hapsari Pemaknaan Motif Hias Pilin Berganda Pada Artefak Perunggu dan Kain Tradisional Yogyakarta: Sebuah Komparasi 2000
402 Sigit Prasetyo Wahjono, Th. Simbol-Simbol Pada Tatanan Batu dari Teras Ketujuh Candi Ceta: Latar Belakang dan Makna Simbolisnya 2000
403 Susilaningtyas Catur W. Perubahan Penataan dan Fungsi Ruang Rumah Sakit Dr. YAP Yogyakarta (1923-1999) 2000
404 Suwarso Alip Nugroho Pengaruh Letusan Gunung Merapi Terhadap Candi Sambisari, Kedulan, dan Candi Morangan 2000
405 Widyakirana Pola Tata Ruang Kota Banyumas Abad XVIII – Awal Abad XX 2000
406 Alifah Eksistensi Gerabah Gunung Wingko Studi Peodogeomorfologi 2001
407 Aryadi Darwanto Bangunan Konstruksi Kayu Pada Relief Candi Borobudur dan Prambanan: Studi Tentang Kontinyuitas Komponen Bangunan Pada Rumah Tradisional Jawa 2001
408 Beta Ayu Listyorini Akulturasi Arsitektural Pada Rumah Tinggal di Kampung Cina, Gresik. 2001
409 Danarti Tri Wardani Pola Cakupan Eksploitasi Sumber Bahan Alat Batu Situs Gua Braholo Pada Kala Awal Holosen; Tinjauan Geo-Arkeologi 2001
410 Eko Priatno Triwarso Kota Cilacap Tahun 1848-1942 2001
411 Endah Budi Heryani Permukiman Candi Baru Semarang 1916-1942: Kajian Terhadap Latar Belakang Penerapan Konsep Tropische Staad 2001
412 Farid Fakhrudin Tata Ruang dan Kronologi Penghunian Gua Braholo; Kajian Arkeologi Ruang Skala Mikro 2001
413 Gandung Dwi Handoko Ragam Hias Antefiks Pada Candi-Candi Periode Jawa Tengah Abad VIII-X Masehi: Tinjauan Terhadap Motif Hias, Keletakan, dan Fungsi 2001
414 Guntur Wahyu Nugroho Perbandingan Penguburan Situs Gunung Wingko, Anyar ,dan Plawangan 2001
415 Heni Prabowo Dinamika Perekonomian Kerajaan Majapahit Abad XIII-XVI Masehi 2001
416 Ikhwan Ma’rufi Tata Ruang Kompleks Pabrik Gula Gondangwinangun (Gondang Baru), Klaten: Kajian Strukturalisme Levi-Straus 2001
417 Juniyanti Pola Penempatan dan Tata Ruang SMU Bopkri I, SMU 3, dan SLTP 5 di Kota Baru, Yogyakarta 2001
418 Linda Agustin Hidayati Gaya Bangunan Rumah di Dalam Kompleks Pabrik Gula Modjopanggoong 2001
419 Mochammad Syafrudin Selokan Mataram: Kajian Terhadap Sistem Irigasi dan Aspek Sosial-Linggkungannya 2001
420 Naning Wulandari Upaya Peningkatan Hasil Pertanian Pada Masa Jawa Kuna Abad IX-XV M 2001
421 Natasia Kota Tanjungpandan Abad XIX – Medio XX Masehi: Dinamika Tata Ruangnya 2001
422 Sri Kumainah Keterkaitan Isi Prasasti Turyyan Dengan Prasasti Lain yang Dikeluarkan Pada Masa Pemerintahan Pu Sindok 2001
423 Swedhi Hananta Kompleks Makam Pakualaman Analisis Terhadap Latar Belakang Perpindahan dan Tata Letak Kompleks Makam 2001
424 Tobias Ragam Bentuk dan Hiasan Alat-Tukar Jawa Kuno dari Bahan Perak Abad IX-XIV M. (Studi Kasus Koleksi Seksi Numismatik Museum Nasional) 2001
425 Wahyu Broto Raharjo Keberadaan Relief Tokoh Pada Ambang Atas Pintu dan Relung Utama Candi II Pada Kompleks Candi Ngawen 2001
426 Wahyudi Isnugroho Stasiun Kereta Api Tawang Semarang Tahun 1914-1930: Tinjauan Arsitektur Bangunan 2001
427 Yosef Andy Suryono Stratifikasi Sosial dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Masyarakat Majapahit Pada Masa Pemerintahan Hayam Wuruk 2001
428 Aan Kalsan Benteng-Benteng Kolonial di Kabupaten Sumedang: Kajian Peran dan Fungsi 2002
429 Agnes Thesa Khrisnadetta Peran Perempuan Dalam Industri Gerabah Tradisional di Bojonegoro (Tinjauan Etnoarkeologi) 2002
430 Ahmad Rosyadi Widayat Keberadaan Artefak Batu Paleolitik di Kawasan Pegunungan Serayu Selatan dan Faktor yang Mempengaruhinya 2002
431 Aida Nurdiana Beberapa Pesanggrahan di Yogyakarta Pada Masa Sultan Hamengkubuwono II: Tinjauan Berdasarkan Lokasi, Fungsi, dan Keterkaitan Antar Pesanggrahan 2002
432 Arief Yuwantoro Pandangan Masyarakat Jawa Kuna Terhadap Dewa Surya di Jawa Pada Abad X – XV M 2002
433 Ceny Martiani Bertha Pandangan Masyarakat Jawa Kuna Terhadap Dewi Prajnaparamita Pada Periode Jawa Timur Abad X – XIII M 2002
434 Eko Ismiyanto Makna Simbolik Ragam Hias Pada Kompleks Makam Sunan Drajat 2002
435 Etik Kurniati Windiani Desa Perdikan Kajoran Klaten Jawa Tengah (Kajian Tentang Pola Pemukiman) 2002
436 Gatut Eko Nurcahyo Fungsi Candi Gampingan dan Latar Belakang Pendiriannya 2002
437 Idha Yuanisa Oscar Ragam Hias Kereta Kraton Kasultanan Yogyakarta (Kajian Bentuk, Variasi, Fungsi, Makna Simbolis dan Hubungannya Dengan Fungsi Kereta) 2002
438 Imam Fauzi Kronologi Penghunian Zona Cekungan Wonosari,Gunung Kidul:Kajian Berdasarkan Sebaran Artefak dan Lingkungan 2002
439 Imas Masriyatussya’diyah Perkembangan Tata Ruang Pondok Pesantren Santi Asromo Majalengka Jawa Barat Tahun 1932 – 1996 2002
440 Isni Wahyuningsih Keberadaan Pasren dan Pemujaan Terhadap Dewi Kesuburan Pada Masyarakat Jawa (Berdasarkan Amatan Pada Rumah-Rumah Tradisional di Yogyakarta) 2002
441 Luthfi Khamid Situs Makam Gunung Kelir, Pleret, Yogyakarta. Tinjauan Tataruang Mikro dan Makro 2002
442 Maria Rini Candi Lumbung: Latar Belakang Pendirian dan Keberadaannya 2002
443 Marlon Nr Ririmasse Desain Prangko Hindia Belanda Bertemakan Raja dan Ratu: Tinjauan Makna dan Strategi Representasi 2002
444 Martha R. Bakara Model Pelestarian dan Pemanfaatan Situs Arkeologis Tohok, di Samosir, Sumatera Utara:Suatu Kajian Culture Resource Management 2002
445 Mei Hartini Pemukiman Arab di Ampel Surabaya (Tinjauan tentang Letak Kompleks Pemukiman) 2002
446 Neli Triana Model Perlindungan Sumberdaya Budaya di Kawasan Lembah Bada-Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah 2002
447 Novie Hari Putranto Permukiman Militer Belanda di Gombong Tahun 1833-1913. 2002
448 Purnawan Widodo Peniruan Arca Buddha, Arca Ganesha dan Arca Dvarapala di Prumpung (Kajian Atas Ciri Ikonografi dan Ikonometri) 2002
449 Rachmadya Yudiantomo Dinamika Bangunan Bertingkat Pada Relief Jawa Kuno: Kajian Atas Arsitektur dan Fungsi 2002
450 Siti Moestokhiroel N., R.A Utang dan Gadai Pada Masa Jawa Kuna (Tinjauan Berdasarkan Prasasti Suddhapattra) 2002
451 Soni Prasetia Wibawa Monumen Natar di Desa Sangliat Dol, Pulau Yamdena, Kepulauan Tanimbar, Maluku: Fungsi dan Kedudukannya Dalam Konteks Pemukiman Tradisional 2002
452 Sony Saifuddin Perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah di Kotagede Thn.1923-2002 dan Faktor-Faktor yang Melatarbelakanginya 2002
453 Sri Sugiharta Pembuatan Gula Kelapa di Desa Borobudur: Sebuah Model Kajian Ekologi Budaya. 2002
454 Sri Wulandari Tiga Masjid Saka Tunggal di Kabupaten Kebumen dan Banyumas 2002
455 Supriyadi Pesanggrahan Langenharjo Pada Masa Sunan Paku Buwana IX (1861 – 1893) di Sukoharjo: Tinjauan Atas Fungsi, Tata Letak, dan Arsitektur 2002
456 Yunita Tri Atsari Jaringan Listrik dan Perkembangan Kota Yogyakarta Tahun 1916-1942 2002
457 Yustina Rosaria Dewi Karakteristik Kompleks Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Bantul, Yogyakarta. 2002
458 Anna Fadila Arsitektur Stasiun Purwosari Surakarta 1875-2003 (Tinjauan Aspek Sosial Ekonomi) 2003
459 Ari Kristian Rumah Laweyan, Karakteristik Tata Ruang Bangunan Rumah Tinggal Pengusaha Batik 2003
460 Dias Maradona Bangunan Berciri Megalitik di Kawasan Gunung Wilis 2003
461 Dwi Martiananingrum Aksesibilitas Ekonomi Pasar Legi di Surakarta Pada Tahun 1900-1950 (Tinjauan dari Jaringan Jalan dan Bangunan di Sekitarnya) 2003
462 Elida Ekawati Relasi Antara Kelenteng Tay Kak Sie Dengan Tujuh Kelenteng Lainnya di Pecinan Semarang 2003
463 Ely Susanti Gedung-Gedung Societeit di Yogyakarta (Studi Berdasarkan Perbandingan Arsitektur) 2003
464 Faatikhata Ulinnuha Bentuk-Bentuk Fasad Pada Bangunan Rumah Tinggal Pengulu, Ketib, dan Pengusaha Batik di Kampung Kauman Yogyakarta (Tinjauan Berdasarkan Status Sosial) 2003
465 Hasan Basri Arsitektur Tradisional Minangkabau : Studi Kasus Rumah Tuo Kampai Nan Panjang 2003
466 Marwi Kurniati Model Perlindungan dan Pelestarian Kawasan Cagar Budaya: Studi Kasus Kawasan Kotagede 2003
467 Neneng Kartiwi Peran dan Kedudukan Visnu Pada Periode Klasik di Jawa Barat 2003
468 Ni Ketut Wardani Pd Pemilihan Daerah Ngagel Sebagai Kawasan Industri dan Perkembangan Industri di Surabaya Tahun 1808-1942 2003
469 Rizal Perwira N,A Keseragaman Perbandingan Ukuran Pada Kelompok – Kelompok Alat Serpih Gua Braholo 2003
470 Sofwan Noerwidi Keterkaitan Kronologi Budaya Situs Ceruk Uattamdi Dengan Proses Migrasi-Kolonisasi Manusia di Maluku Utara 2003
471 Sutiyani Pasar Johar Sentral Ekonomi di Semarang (Tahun 1930 -1942) 2003
472 Waluyo Sapatha Dalam Prasasti-Prasasti dari Masa Pemerintahan Raja Balitung (Tinjauan Struktur, Isi, dan Peranannya Pada Bidang Religi-Politik) 2003
473 Yuni Budi Astuti Ragam Hias di Pura Pakualaman: Tinjauan Atas Variasi, Jenis, dan Maknanya 2003
474 Bayu Cahyoadi Fernado Arsitektur Masjid Shiratal Mustaqim 2004
475 Dwi Iswati Penggunaan Unsur Nama Dewa Dalam Abhisekanama Raja-Raja Mataram Kuna Abad IX-X M 2004
476 Evi Novita Latar Belakang Pemilihan Lokasi Permukiman: Studi Kasus Permukiman Benteng Biting, Lumajang 2004
477 Henny Kusumawati Aspek Penempatan dan Keruntuhan Candi Gunung Sari Berdasarkan Kajian Lingkungan Fisik 2004
478 Heru Yulyanto Gerbong Kereta Api dan Mobil Koleksi Sunan Pakubuwana X (Sejarah dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemakaiannya) 2004
479 Ina Baitul Uyun Candi Penampihan: Kajian Bentuk Arsitektur dan Fungsi 2004
480 Kayato Hardani Penggunaan Unsur Serapan Bahasa Sansakerta Dalam Prasasti-Prasasti Masa Pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910M): Kajian Etimologi 2004
481 Mada Dwipangga Widya Karisma Penempatan Lokasi Hotel Toegoe Serta Konsep Arsitektural yang Melatarbelakangi (Akhir Abad 19-Awal Abad 20) 2004
482 Nia Naelul Hasanah R Latar Belakang Pemilihan Lokasi Pakuan Pajajaran Sebagai Kota Pusat Kerajaan Sunda (Studi Kasus Pada Masa Pemerintahan Sri Baduga Maharaja 1482-1521 M) 2004
483 Nugroho Widi Asmara Konstruksi Gender Pada Masyarakat Tengger (Studi Etnoarkeologi Pada Masyarakat Argosari Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Jawa Timur) 2004
484 Pahlawan Putra Satria Negara Teknologi Produksi Rokok Kudus Akhir Abad XIX M – Pertengahan Abad XX M 2004
485 Retno Isnurwindryaswari, R A Payung Kasultanan Yogyakarta Masa Hamengkubuwono VIII – X : Kajian Atas Variasi Bentuk, Fungsi, dan Kedudukannya 2004
486 Sony Saifuddin Perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah di Kotagede Thn.1923-2002 dan Faktor-Faktor yang Melatarbelakanginya 2004
487 Sri Asih Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Artefak Tulang di Situs Gua Braholo Pada Kala Pleistosen Akhir sampai Holosen 2004
488 Timur Triono Pola Pemukiman Masyarakat Tionghoa Singkawang dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya: Studi Etnoarkeologi 2004
489 Wicaksono Dwi Nugroho Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Candi Plaosan Tinjauan Evaluatif Terhadap Hasil Studi Kelayakan Pengembangan Kawasan Candi Plaosan Melalui Perspektif CRM 2004
490 Winarto Para Juru Pada Masa Majapahit (Tinjauan Berdasarkan Prasasti dan Naskah Keagamaan) 2004
491 Yanti Muda Oktaviana Proses Reklamasi Temuan-Temuan Arkeologi Dalam Proses Pembuatan Atas Batubata di Trowulan 2004
492 Yanto H.M.Manurung Latar Belakang Pertumbuhan Pusat Pemerintahan Kota Bengkulu Masa Inggris (1685-1825) 2004
493 ????? Musalla Aisyiyah Tinjauan Atas Latar Belakang Pendirian Bentuk dan Peranannya Dalam Pembaharuan Islam di Yogyakarta 2004
494 Adria Yuky Kristiana Pemberian Kepada Pendeta : Kajian Atas Jenis dan Pengaruhnya Pada Masa Majapahit 2005
495 Agung Hepi Pitoyo Konsep Fengshui Dalam Arsitektur Kelenteng Hok Tik Bio Gondomanan,Yogyakarta 2005
496 Agustine Dwi Kurniawati Perkembangan Tata Ruang Stasiun Solo Balapan dan Tata Ruang Wilayah di Sekitarnya Tahun 1870-1942 2005

Daftar skripsi ini sedang dirapikan. Mohon koreksi kalau ada kesalahan, terima kasih.

2005

  • Adria Yuky Kristiana, Pemberian Kepada Pendeta : Kajian Atas Jenis dan Pengaruhnya Pada Masa Majapahit
  • Agung Hepi Pitoyo, Konsep Fengshui Dalam Arsitektur Kelenteng Hok Tik Bio Gondomanan,Yogyakarta
  • Agustine Dwi Kurniawati, Perkembangan Tata Ruang Stasiun Solo Balapan dan Tata Ruang Wilayah di Sekitarnya Tahun 1870-1942
  • Alamsyah, Kajian Arkeomusikologi Terhadap Alat Musik Prajurit Keraton Yogyakarta
  • Amelia Putri Wijayanti, Kompleks Gereja Pohsarang Kediri (Studi Inkulturasi)
  • Anang Cristiana, Adaptasi Manusia Penghuni Song Agung Suatu Kajian Ekologi
  • Anggoro Cahyadi, Perkembangan Tata Ruang Pondok Pesantren Tremas dan Miftahul Ulum (Abad XIX-XXI)
  • Anugraheni Agustin, Interpretasi Relief Pada Kelenteng Eng an Kiong di Malang
  • Candra Widiastuti, Bentuk dan Fungsi Taman Berdasarkan Interpretasi Terhadap Visualisasi Relief Cerita Lalitavistara di Candi Borobudur
  • Defri Elias Simatupang, Upacara Mangongkal Holi di Pulau Samosir, Studi etnoarkeologi Trasnformasi Unsur Kebudayaan Religi
  • Diana Budhi Setyaningsih, Tata Ruang Kota Pekalongan Tahun 1906-1939
  • Endang Uswatun Chasanah, Perkembangan Jalur Kereta Api Antar Daerah di Yogyakarta
  • Erlin Novita Idje Djami, Pola Pemukiman Masyarakat Tradisi Megalitik di Kampung Waitabar Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat (Tinjauan Etnoarkeologi)
  • Geralina Anggariany, Kajian Ikonografis Terhadap Arca-Arca di Situs Pejambon, Kabupaten Cirebon
  • Herindra Wikan Nur Pragnyana, Potensi Situs-Situs Masa Klasik di Kawasan Piyungan dan Banguntapan Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
  • Indah Wulansari Ardi Yani, Sistem Penguburan Manusia Pendukung Budaya Gua di Jawa
  • Jhohannes Marbun, Faktor Penyebab Hilangnya Tradisi Penguburan Dengan Waruga di Minahasa (Sulawesi Utara)
  • Lia Rahmani Fitri, Makna dan Fungsi Upacara Buka Luwur Pada Kompleks Makam Ki Ageng Panataran Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali Jawa Tengah
  • Linda, Tata Letak Lukisan Dinding Gua di Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan
  • Ninik Sarsidah, Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta Tahun 1750-1997 (Tinjauan Atas Latar Belakang Pendirian, Pola Penemptan dan Fungsi Bangunan)
  • Nurul Jannati, Tata Kota Wonosobo Awal Abad XIX-Pertengahan Abad Tu”
  • Puji Widiasih, Signfikansi Arkeologis Bangunan-Bangunan Peninggalan Bangsa Belanda di Kota Salatiga (Studi Kasus di Bundaran Tamansari dan Jalan Diponegoro)
  • Rahayu Trisnaningsih, Kriminalitas Pada Masa Kerajaan Majapahit: Kajian Aspek Normatif Atas Pelaksanaan Hukum Majapahit Berdasarkan Sumber Tertulis Prasasti dan Naskah
  • Rully Andriadi, Artefak Batu Temuan Sekitar Daerah Aliran Sungai di Cekungan Baturetno Wonogiri: Suatu Interpretasi Berdasarkan Pendekatan Chaine Operatoire
  • Sinatriyo Danuhadiningrat, Prasasti Tinulad Koleksi Museum Nasional Jakarta: Tinjauan Atas Isi dan Latar Belakang Penulisannya
  • Sri Chiirullia Sukandar, Latar Belakang Pendirian Stasiun Willem I dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Fisik Kota Ambarawa
  • Stanov Purnawibowo, Transformasi Fragmen Keramik di Parit Keliling Kompleks Candi Plaosan
  • Su’udiah Hazizah, Nilai-Nilai Paramitayana dalam Relief Karmawibhangga Candi Borobudur (Studi Proses Sosial)
  • Suryani, Peran Garam Dalam Teknologi Pembuatannya Pada Masyarakat Jawa Kuna Abad X-XIV M (Kajian Terhadap Data Tekstual dan Data Etnografi)
  • Wahyu Handayani, Perkembangan Fungsi Ruang Kompleks Masjid Besar Al Manshur Kauman Wonosobo (dari Religi, Politik, Sosial, Hingga Ekonomi)
2006

  • Andri Restriyadi, Analisis Sintaktik, Semantik, dan Kreativitas Seniman Jawa dalam Pembingkaian Tanda Visual-Naratif pada Relief Cerita Krsna di Candi Prambanan
  • Auliana Muharini, Latar Belakang Pemilihan dan Penempatan Relief-relief Cerita di Candi Jago: Kajian Terhadap Aspek Keagamaan dan Sosial Politik
  • Diah Pratiwi, Makna Simbolis Umpak di Kraton Yogyakarta
  • Jujun Kurniawan, Perkembangan Kota Malang 1914-1942 : Kajian Atas Intervensi Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda
  • Juriyah, Vandalisme di Kompleks Candi Gedongsongo
  • Mas’ulah, Perkembangan Fungsi Bangunan dan Arsitektur Susteran Amal Kasih Darah Mulia Kota Baru Yogyakarta
  • Nurbiono, Perbandingan Karakteristik Pendopo, Pringgitan, dan Dalem Ageng di Dalem Mangkubumen dan Dalem Kaneman
  • Septi Indrawati Kusumaningsih, Peranan Stasiun Kereta Api Lempuyangan dalam Pertumbuhan Ekonomi Kota Yogyakarta Tahun 1872-1914
  • Sri Budi Sulastri, Pola Tata Ruang Kompleks Pabrik Gula Colomadu
2007

  • A’an Indra Nursanta, Peranan Jaringan Irigasi Kamijoro Bagi Sistem Pertanian di Daerah Kebonongan, Bantul
  • Adhesty Septana Noor, Strategi Pelestarian dan Pemanfaatan Situs Pugungraharjo Propinsi Lampung
  • Ahmad Hariri, Tipologi Tembikar Candi Plaosan Candi Ijo dan Ratu Boko Dalam Perbandingan (Kajian Terhadap Atribut Bentuk)
  • Ani Triastanti, Perdagangan International Pada Masa Jawa Kuno (Tinjauan Terhadap Data-Data Tertulis Abad X – XIII)
  • Denny Santika, Masjid Raya Cipaganti di Permukiman Kolonial Belanda Abad ke -20 di Bandung, Jawa Barat
  • Dhiana Putri Larasaty, Strategi Pengelolaan Bangunan Indis di Kota Tegal Jawa Tengah (Pendekatan CRM)
  • Dian Windu Febriarini, Perkembangan Tataruang Kompleks Pengadaian Kantor Cabang Lempuyangan Yogyakarta 1913 – 2006
  • Fakhriah Cynthia, Karakteristik Masjid Keramat Banua Halat
  • Gregorius Dwi Kuswanto, Eksploitasi Sumberdaya Akustik Oleh Komunitas Penghuni Song Jebreng, Gunungkidul: Kajian Lingkungan berdasarkan Temuan Ekofak Organik Hasil Ekskavasi
  • Hari Setyawan, Potensi dan Pengelolaan Sumber daya Alam Flora Kawasan Prambanan abad IX – X M
  • Harry Octavianus Sofian, Survei Arkeologis Potensi Gua di Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul
  • Helianto, ALternatif Penataan Kawasan Dalam Upaya Pelestarian Pusat Kota Lama Mees Ter Cornelis di Jatinegara, Jakarta Timur
  • Hendro Utomo, Faktor Yang Melatarbelakangi Keberadaan Masjid Santren Bagelen
  • Herry Siswanto, Perkembangan Tataruang Kelenteng Kwan Tee Kiong Yogyakarta (1879 – 2005)
  • Ida Bagus Putu Pratjna Yogi, Pangaruh Cina Pada Arsitektur Pura Pabean di Buleleng (Berdasarkan Kajian Sejarah, Pola Tata Ruang, Bentuk, dan Fungsinya
  • Jauhari, Konservasi Kawasan Cagar Budaya: Studi Kasus Pemukiman Tionghoa di Ketandan Yogyakarta
  • Joy Jatmiko Abdi, Identifikasi Permasalahan Pemugaran Bangunan Induk Candi Ijo
  • Junia Sri Wiwita, Arsitektur dan Makna Simbolis Ragam Hias Pada Rumah Gadang Ukiran Cino di Simalanggang, Kabupaten Lima Puluh Kota
  • Meuita Inayati, Latar Belakang Keberadaan Kelenteng Kwan Tee Kiong Yogyakarta
  • Nia Marniati EF, Pemanfaatan Artefak Tulang Untuk Eksploitasi Vegetasi di Situs Gua Song Blendrong: Kajian Bersadarkan Analisis Residu
  • Omilda Novi Haryati, Eksploitasi dan Sebaran Sumberbahan Artefak Batu Song Terus, Wonogiri Tinjauan Geo-Arkeologi
  • Pahadi, Simbolis Pada Bangunan Istana Qadriah Kesultanan Pontianak (Tinjauan Terhadap Arsitektur dan Ragam Hias)
  • Paulina Dwi Yani Wasonono, Perkembangan Ragam Hias Kain Songket Subhanala di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Tinjauan Etnoarkeologi
  • R. Rakhmad Bakti Santosa, Penerapan Konsep Astabrata Pada Masa Pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung 898 – 910 (Tinjauan Terhadap Prasasti
  • R.R. Kartika Wahyuning Nugrahani, Pekerjaan Wanita Pada Abad IX Interprestasi Relief Cerita Karmawibhangga di Candi Borobudur
  • Rahayu Intan Riani, Alat Tulang Song Tirta Kecamatan Rongkop Gunungkidul: Analisis Tipe, Penerapan Teknologi, Pemilihan Bagian Tulang dan Jenis Hewan Yang Dimanfaatkan
  • Ratna Saraswati, Pembahasan Distribusi Air Pada Saluran Van Der Wijk dan Dampak Sosialnya Pada Masyarakat Sekitar
  • Retna Dyah Radityawati, Tata Letak Kompleks Makam Sunan Kudus: Refleksi Stratifikasi Sosial Masyarakat Kudus Abad XV-XVI (Suatu Kajian Arkeologi Gender)
  • Ruri Sutiyanti, Transformasi Pemujaan Tokoh Dewi Sri di Jawa Dari Dewi Kesuburan (Gaja-Lakshmini) Ke Dewi Penguasa Padi
  • Ryan Saputra, Arca Kristus Raja Pada Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Analisis Ikonologi dan Etnoarkeologi
  • Suci Utami, Upacara Tobat Dalam Perjalanan Budaya
  • Taufiqurrohman Setiawan, Pola Spasial Gua-Gua Hunian Pada Masa Prasejarah di Kecamatan Tanjungsari, Gunung Kidul
  • Uswah Nurindrapuspita, Latar Belakang Munculnya Tradisi Saparan di Dusun Pondok Wonolelo Desa, Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman
  • Weningtyas Kismorodati, Makna Komplek Candi Cetha Bagi Masyarakat Lokal Masa Kini
  • Widapradnya Hutamasukma, Penggambaran Aktivitas Bhiksu Masa Jawa Kuna (Kajian Berdasarkan Relief Cerita Candi Borobudur)
2008

  • A. Nikko Suko Dwiyanto, Perlindungan dan Pemeliharaan Tinggalan Budaya Tradisi Megalitik di Daerah Purworejo
  • Agustiyan Wahyuni, Bangunan-Bangunan Komponen Kota Kota Lama Surabaya (Kajian Arsitektur dan Tata Ruang)
  • Allan Wahyundoko, Rekonstruksi Candi Induk Kalibukbuk dan Fungsi Candi Kali Bukbuk
  • Arni Amertaningsih, Variasi Jenis dan Makna Ragam Hias Pura Mangkunegaran, Surakarta
  • Dedy Hendra Wahyudi, Evaluasi Terhadap Manajemen Permuseuman di Museum Pusat TNI-AD Dharma Wiratama
  • Destiani, Makna Art Deco pada Gedung Bioskop Permata Yogyakarta (Suatu Kajian Arsitektur)
  • Dian Kurniasari, Strategi Pengembangan Potensi Wisata Kecamatan Berbah: Rekomendasi Desa Sendangtirto Sebagai Desa Wisata Dengan Masjid dan Makam Wotgaleh Sebagai Iconnya
  • Endra Adiwinata Gofur, Aspek Tradisi Megalitik Dalam Upacara Ngaleksa di Situs Gunung Ageung Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Studi Etnoarkeologi)
  • F. Sekar Arum Dhatie, Perkembangan Tataruang dan Arsitektur Tradisional Jawa di Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran
  • Fahrur Syidi Ghazalba, Bangunan Rumah Pegawai di Kompleks Pabrik Gula Ceper Baru, Klaten (Tinjauan Tataruang Bangunan Secara Mikro dan Faktor Yang Melatarbelakanginya)
  • Haritsah Kusumaningrum, Perkembangan Bangunan, Fungsi dan Peran Pasar Beringharjo, Yogyakarta
  • Kurnia Prastowo Adi, Alat Transportasi Pada Mada Jawa Kuna (Analisis Berdasarkan Relief Candi Borobudur)
  • M. Ariel Ishardhika, Pabrik Gula Gondang Baru, kabupaten Klaten Tinjauan Terhadap Pemilihan Lokasi
  • M. Saiful Arif, Konstelasi Pesantren-Pesantren dan Ekstensi Pengaruhnya di Jombang (Studi Kasus Pondok Pesantren Tebu Ireng, Tarbiyatun Nasyiin dan Pondok Pesantren Umar Zahid
  • Ronaldi Ilham, Perkembangan Tata Kota Kolonial Palembang ( Tinjauan Tata ruang dan Latar Belakangnya)
  • Tulus Wichaksono, Evaluasi Sistem Manajemen Registrasi dan Dokumentasi Berdasarkan Standar Direktorat Museum (Studi Kasus: Museum Batik, Yogyakarta
  • Vina Vidi Pravita, Hak-Hak Istimewa Sebagai Simbol-Simbol Status Pada Prasasti-Prasasti Masa Kediri-Singasari
  • Yudistiro Tri Nugroho, Sistem Keamanan Pada Kompleks Pesanggrahan Goa Siluman atau Wanacatur
  • Yuzhar Mirzal, Masjid Jami An-Nawier Pekojan (Tinjauan Pengaruh Unsur Arsitektur Eropa dan Faktor Yang Melatarbelakanginya
2009

  • Adi Putra Pratama, Aspek Tata Letak dan Bahan Bangunan Pada Kompleks Candi Muara Takus, Kab. Kampar, Prop. Riau
  • Agni Sesaria Mochtar, Vihara Pada Masa Jawa Kuna Abad VIII – XI M (Tinjauan Data Prasasti)
  • Albertus Agung Vidi S, Pola Tataruang SMA Negeri 7 Purworejo
  • Alva Noranda, Startegi Pengelolaan Bangunan Cina Kawasan Pecinan Kota Padang
  • Anggit Yudhi Pratama, Pola Tata Ruang Kota Batang Pada Masa Kolonial Belanda
  • Azwar Sutihat, Aspek-Aspek Pemilihan Lokasi Benteng Lodewijk di Selat Madura dan Keterkaitannya Dengan Strategi Pertahanan H.W. Daendels di Jawa
  • Carlos Iban, Nilai Penting Upacara Tiwah Sebagai Strategi Pengelolaan Living Heritage Penguburan Sekunder Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah (Studi CRM)
  • Erna Rachmawati, Stasiun Kereta Api Kotabaru Malang (Tinjauan Berdasarkan Karakteristik dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Arsitektur Bangunannya)
  • Febri Wijanarko, Pemanfaatan Kuda Pada Masa Jawa Kuna Berdasarkan Relief Pada Candi Borobudur
  • Fitriawati, Fosil Fauna Vertebrata Situs Semedo: Identifikasi Taksonomis dan Latar Belakang Lingkungan
  • Hari Wibowo, Ragam Hias dan Bentuk Pada Kereta-Kereta Kebesaran Kraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta (Sebuah Studi Perbandingan)
  • Indra Andhika Rossadi, Nilai Penting Bangunan Kolonial dan Kawasan di Jalan Ijen Kota Malang (Kajian awal Cultural Resource Management)
  • Irsyad Martias, Model Transformasi Sampah Cangkang Kerang di Pemukiman Kawasan Pesisir Watukarang, Pacitan
  • Johanes Kurniawan, Perkembangan Pola Pemukiman Kota Semarang Tahun 1695 – 1800: Kajian Diakronik Data Spasial Dengan Analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Kajian Arsip Sejarah
  • Laurensia Prihani, Hiasan Pada Rumah Tradisional Jawa
  • Nicko Roni Setiawan, Artefak Wadah Berbahan Kaca Temuan BMKT Cirebon “Analisis Variasi dan Komposisi Unsur Kimia”
  • Oto Alcianto, Bukti-Bukti Arkeologis Eksploitasi Hutan Jati di Daerah Playen, Gunungkidul dan Sekitarnya Pada Masa Kolonial Belanda (1800 -1942)
  • Restu Budi Sulistiyo, Tradisi Pembuatan Genteng Jenis Flam Pada Masyarakat Pengrajin Genteng Sokka di Kebumen
  • Ryan Antoni, Pola Tata Ruang Kota Sangasanga Akhir Abad XIX – Pertengahan Abad XX
  • Sari Juliastuti, Keberadaan Jaringan Kanal di Dalam Kota Batavia Masa VOC
  • Tri Winarni, Evaluasi Pengelolaan Koleksi Museum Wayang Kekayon Yogyakarta (Peninjauan Segi Dokumentasi : Registrasi, dan Inventarisasi)
  • Winda Artista Harimurti, Latar Belakang Permohonan Penetapan Sima Masyarakat Jawa Kuno Berdasarkan Prasasti Abad IX-XII Masehi
  • Wiyan Ari Tanjung, Latar Belakang Penempatan Fungsi Benteng Pendem Kalimaro Bagelen, Purworejo

2010

  • Alvi Sholihah, Tata Pameran Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jendral Sudirman Sebagai Implementasi Tujuan Museumnya
  • Darojat Qodir Basalamah. Proses Reduksi pada Artefak Batu di Situs Semedo
  • Dewi Yuliastuti, Perkembangan Tata Ruang Perusahaan Daerah Taru Martani Yogyakarta Tahun 1920-2008
  • Dismas Rienthar Adhyaksa. Ragam Makna Gereja Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta
  • Haris Rahmanendra, Tata Ruang Kompleks Pabrik Gula Mojo di Sragen, Jawa Tengah
  • Jati Kurniawan, Penggambaran Wadah Pada Relief Karmawibhangga (Tinjauan Bentuk dan Fungsi)
  • Kristanti Wisnu Aji Wardani, Kajian Struktur Keruangan dan Lingkungan Situs Muara Jambi
  • Ratih Hidayah Nur, Jalur Kereta Api Purwosari_Wonogiri (Latar Belakang Pembangunan dan Dampak Keberadaan Jalur Kereta Api Terhadap Masyarakat Kota Surakarta dan Kabupaten Wonogiri Tahun 1922 – 1950
  • Rizal Dhani, Situs Pabrik Gula Sewugalur (1889-1930) (Tinjauan terhadap Latar Belakang Pemilihan Lokasi dan Pengaruh Keberadaannya terhadap Pemukiman Kolonial di Sekitarnya)
  • Wiwit Jawi Indah, Peranan Perempuan Dalam Pengolahan Sawah Pada Masa Majapahit (Sebuah Tinjauan Gender)
  • Wulan Resiyani, Toponim Masa Kini Berdasarkan Prasasti Abad IX – X M Yang Ditemukan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah
  • Yusuf Senja Kurniawan, Keberadaan Masjid Pathok Negoro Plosokuning Di Tengah Pemukiman Desa Plosokuning